Oleh: fayday | Oktober 11, 2011

Vespa ~ Never Ending Style Motorcycle

Saat istri saya mengatakan ingin membeli motor, saya nitip kedia agar membeli piaggio-zip.Tujuannya agar saya bisa ikut menikmati indah-nya naik piaggio nantinya…semoga plan saya ini bisa tercapai tahun depan. Maklum…saya anti kredit motor..mending ngumpulin uang dulu…

Sebenarnya saya naksir Vespa LX125/150 ie namun apa daya harganya mahal, jadi ya nrimo pake Zip aja dech…

Tampak samping


fantat-nya yg eropa banget


bule aja suka

Ya piaggio…entah kenapa saya sangat suka dengan brand ini.
Sebenarnya saya suka tampang vespa LX150 injeksi made in Vietnam..tapi karena harganya mencapai 25jt, Maka pilihan mending ke piaggio zip yang berkisar 13jt-an.
Dulu saat belajar motor saya berlatih dengan Yamaha V75 milik bulik saya, Setelah lancar, saya sering pinjam vespa om saya Vespa Mini (type apa saya lupa..) vespanya kecil tapi bukan corsa,,,
Setelah tinggal dijakarta, dan punya istri..saya bertemu dengan penggemar Vespa juga yang kebetulan Bapak Mertua saya.

Naik Vespa memang beda sensasinya, sampai2 ada blogger otomotif senior yang bilang :
– Kalau lelaki, pakai kopling ditangan kiri –

Kalau saya bilang,
– Vespa -Never Ending Style Motorcycle- –

Oleh: fayday | Oktober 11, 2011

“Saudara Kembar” Ayu Ting Ting

Fenomena Ayu……
Ternyata Ayu Ting Ting punya banyak profesi dan saudara kembar,
berikut penelusurannya

Masih perawan : Ayu TingTing.
Lagi hamil : Ayu BunTing.
Tukang pasang atap rumah : Ayu GenTing.
Suka online : Ayu ChatTing.
Suka arung jeram : Ayu RaftTing.
Suka smack down : Ayu BanTing.
Yang kerja di Percetakan : Ayu PrinTing.
Ayu kerja di pabrik rokok: Ayu LinTing.
Ayu yg suka ketawa : Ayu SinTing
Ayu dari Batak : Ayu GinTing
Ayu dari Purworejo : Ayu LanTing

he..he..just kidding

Oleh: fayday | Oktober 6, 2011

“Bego” sapaan akrab di Jakarta ?

Didepan rumah saya ada tanah kosong dan jalan yang cukup untuk berkumpul atau main bola…Setiap sore hari terutama sabtu dan minggu berkumpul anak SD-SMP..kadang main sepeda, kadang cuman ngobrol kadang pegang bola…

Dan ternyata mereka2 itu mempunyai family-name atau nama belakang yang sama..yaitu ”BEGO”. Hal ini saya simpulkan setelah mendengar banyak percakapan mereka… 

A : Bolanya ditngkap dong..nanti masuk got..bego..

B : lagian nendangnya kenceng si..bego loh..

C : dasar lu yang bego..kagak bisa nangkep bolanya…

Kesimpulan saya : keluarga si Bego sedang main bola

Atau percakapan waktu kelompok anak-anak main balanpan sepeda dilain hari .Kebetulan jalan aspal didekat rumah agak lebar dan sepi..sehingga banyak anak main bola dan sepeda disitu…Anak pe-sepeda ini bukanlah anak yang sama dengan pemain bola diatas…

D : horeee…aku nomor satu lah…

E : lha..jelaslah..lu pake sepeda gede..gua pakai sepeda kecil..bego..

F : bener tuh si E..lu menang karena genjotan sepedanya kuat karena besar..gak bisa mikir lu bego..

D : lha waktu aku pakai sepeda kecil menang juga…gak ngaruh lagi..bego…

Kesimpulan saya : keluarga si Bego juga senang main sepeda

Akhirnya karena gak betah..saya keluar..dan bilang ”kenapa sih harus ada bego ikutan-ikutan disebutin..?”

Mereka diam saja, mungkin dalam hati mereka ngomong,”dasar bapak ini bego..gak tahu apa klo disini ”bego” sapaan akrab..”

Jadilah saya saat itu didaulat masuk dalam keluarga bego mereka…..hu..hu..hu…

Oleh: fayday | Oktober 5, 2011

Bermain di Sekolah Alam..?

Setelah lama tidak update blog karena sesuatu hal..maka saya putuskan untuk mulai menulis lagi tentang hikmah2 yang saya dapatkan dalam hidup walau kecil..dan share ke teman-teman yang kebetulan mampir ke blog ini.

Males dengan trend sekarang yang menyebabkan orang lebih sering update status FB dan twitter bahkan saking pentingnya sesegera mungkin update status FB/twitter bisa mengalahkan kesegeraan melaksanakan sholat jamaah setelah azan terdengar.

Kemarin saya berbincang dengan teman SMA yang mengeluhkan anaknya yang males sekolah (sekolah TK tepatnya). Anaknya hanya masuk sekolah TK 4 hari dan setelah itu mogok sekolah karena bosan dan lebih enak main dirumah katanya.

Lebih lanjut teman saya bercerita bahwa anaknya banyak “restricted-pembatasan” disekolahnya, seperti bicara harus pelan, tidak mengganggu temannya, tidak boleh lari-lari, dll. Jadi masuk akal jika akhirnya anak teman saya mogok sekolah karena dia tidak bisa “melakukan permainan yang dia sukai”

Bagaimana mengatasi hal seperti ini..? Jika ditanya seperti itu saya susah menjawabnya, tetapi saya akan menceritakan pengalaman kami tentang anak kedua kami yang susah sekolah (kebetulan hal ini tidak terjadi pada anak pertama kami)

Saya dan istri juga pernah mengalami hal yang sama terhadap anak kedua kami. Dia anak yang susah bergaul dengan orang atau anak yang baru dikenalnya. Saking susahnya bahkan kalau ditanyapun diam dan selalu memegang tangan/pakaian bundanya. Mengikuti kemanapun bundanya pergi dan merengek cepat minta pulang karena lebih betah bermain sendiri di rumah. Anak kedua kami seperti introvert, dia bisa bermain lama dengan dirinya sendiri, dengan asyik memainkan mobil2an atau boneka kecil atau bahkan kunci motor yang dijadikannya tokoh ceritanya. Singkat cerita dia berperan jadi dalang bagi kunci, pensil atau sembarang barang yang dipegangnya.

Saat anak kedua kami masuk playgroup adalah saat paling menguras pikiran dan tenaga bagi istri saya, bagaimana membujuk dia agar mau berangkat sekolah dan bagaimana membuat dia senang bersekolah. Sempat mogok sekolah seminggu lebih dan kami tidak mendapatkan solusi yang baik untuk hal ini.

1. Dikasih tahu..? Hal mustahil mengingat anak kecil gak tahu pentingnya sekolah.

2. Dibujuk sekolah..? bagaimana membujuk anak untuk melakukan sesuatu yang dia gak sukai (kan damar lebih suka main dirumah…)

Akhirnya setelah berkonsultasi dengan gurunya, hari yang dinantikan untuk melancarkan misi besar tiba…Hari itu guru dan teman2 anak saya berombongan menjemput anak saya di rumah. “Mereka membujuk anak saya dengan aksi nyata” bukan hanya dengan ceramah kata-kata semata.

Setahun sudah berlalu dari kejadian tersebut, sekarang anak kedua kami sudah TK A (nol kecil) dan yang menggembirakan anak saya senang memulai hari untuk berangkat sekolah walaupun dia harus bangun jam 5.00 dan mandi jam 5.30 pagi.

Akhirnya hari-hari anak saya diisi dengan kegiatan bermain di TK Lebah Kecil.

Yup..bermain…., bukan belajar

Jika saya tanya anak saya “tadi ngapain disekolah..?”

Dia menjawab, “disekolah bermain kok, enggak belajar”

“Bermain apa saja?”

“Mewarnai, menulis, menyanyi”

Inilah foto-2 TK Lebah Kecil (setidaknya mirip sekolah alam)

Saya jadi ingat kata-kata Lionel Messi saat ditanya tentang permainan bolanya, dia hanya menjawab saya hanya memainkan permainan yang saya tahu dengan gembira.

Coba kita berandai-andai secara nakal :

1. Jika menerapkan filosofi “bermain disekolah” seperti TK, maka :

+ Pelajaran sekolah harus spesifik dan murid memilih sesuai minatnya

+ Lulusannya menjadi ilmuwan yg ahli dibidangnya karena spesifik

+ Murid sekolah dengan gembira karena akan belajar yang dia sukai.

+ Guru harus menguasai bidangnya untuk mengajar

- Banyak anak gak sekolah karena gak tahu minat pelajarannya apa

- Beberapa bidang studi akan hilang seiring tidak adanya minat anak

- Bidang kebudayaan akan terkikis dengan bidang teknologi

2. Jika metode sekolah seperti sekarang ini, maka :

+ Murid mengetahui banyak hal walaupun tidak mendalam

- Murid jadi gak pinter karena fokus muridnya sudah terpecah untuk mempelajari pelajaran yang jumlahnya melebihi jari tangannya

- Jarang ada ahli di Indonesia karena semua tahu secara general

- Profesi politikus banyak diminati karena hanya bermodal pengetahuan yang dangkal, umum dan berani omong, bisa terkenal, kaya dan sukses.

- Murid akan faham pelajaran SD setelah dia SMP, dia akan faham pelajaran SMP setelah sekolah SMU, dst..singkatnya TelMi (pengalaman saya sih..hehehe)

Oleh: fayday | April 22, 2010

Ke-sederhana-an yang Terabaikan

Kesedihan adalah sesuatu yg membuatmu bahagia dimasa lalu, dan
kamu akan mengingatnya dengan tangis dimasa kini dan nanti….

Kebahagiaan sesuatu yg membuatmu bersedih/menderita waktu lalu, dan
kamu kini akan mengingatnya dg tawa dan kerinduan..(Kahlil Gibran)

Sejauhmana saya pergi, seberapa takjub saya pada negeri seberang, saya akan merindukan saat-saat sederhana, saat leyeh-leyeh, “menyerutup” teh hangat berteman gorengan tahu-isi hidangan istri, melihat anak-anak bergumul dan bertengkar berebut mainan.

Saya tiada menyadari istri telah berlatih membuat teh yang sangat khas dilidah, hingga campuran rasa manis, sepet, dan agak-sedikit-asem seperti candu rokok filter bagi perokok. Semua baru terasa hilang setelah tidak ditemukan rasa teh yang sama walau minum english-breakfast-tea dan earl-grey-tea.

Bukankah kita tak pernah menyadari bahwa kita selalu bernafas hingga saat kita sakit dan kesulitan mendapatkanya..? Saat nafas begitu berharga dan kita sangat takut kehilangannya…
Sesuatu yang selalu kita abaikan walau kita sangat membutuhkan.

Saya juga tak pernah menyadari bahwa justru pertengkaran dan gaduhnya 2-anak lelaki saya justru suatu saat akan membuat saya kangen karenanya. Tangisan, gaduh dan teriakan anak-anak yang membuat pusing di waktu lalu, justru saya rindukan mengisi ketenangan yang sebelumnya selalu saya impikan.

Ketenangan di sabtu & minggu pagi yang selalu saya dambakan untuk memperpanjang waktu tidur saya dipagi hari, selalu terganggu dengan suara gaduh mereka. Tetapi sesuatu yang saya “benci” itu sangat saya rindukan kini.
Kegaduhan itu tak dapat menggantikan merdunya suara Josh Groban atau Jason Mraz dan tidak pula suara itu bisa tertandingi oleh lengkingan bunyi gitar Yngwie Malmsteen dan Joe Satriani yang kudengar malam ini. Teriakan anak saya lebih jos-gandos ditelinga.

Chicken curry, cana masala, lamb curry, mie ramyun, spicy-duck memang bukan tandingan tumis daun pepaya dicampur teri atau pecel buatan istri saya,tapi masakan itu tak menghapus kangen saya pada masakan istri. Ini bukan masalah enak dan tidak enak, tapi lebih pada cocok dan tidaknya masakan dilidah saya.

Ah..gombal…mungkin itu komentar orang…tapi saya bisa menjelaskan..
Seperti halnya jika anda ditanya kok bisa suka sama “dia” yang biasa saja..?
Saya yakin anda pun tidak bisa menjawab pada yang bertanya karena itu masalah cinta dan juga kecocokan dua insan manusia.

Sederhananya mereka yang bertanya “tak menemukan” keistimewaan kekasih anda, yang memang “hanya anda-lah” yang ditadirkan Allah untuk mengetahuinya.

Oleh: fayday | Januari 5, 2009

Peduli Palestina

Sudah seminggu lebih televisi dipenuhi berita penyerbuan israel ke Palestina, dan sudah saatnya kita membantu saudara-saudara kita (warga Palestina) dari kebiadaban yahudi israel. Salah satunya dengan memberikan bantuan dana kemanusiaan yang dapat disalurkan lewat sms MERC PEDULI. Anda menyumbang Rp. 5,000 dengan mengirimkan 1 kali sms.

caranya : ketik MERC PEDULI kirim ke 7505

saya sertakan juga artikel terkait..
——————————————————————–
Jumlah SMS Donasi MERC PEDULI kirim ke 7505 membludak. Sejak munculnya berita gempuran Israel kepada warga Gaza Palestina yang menewaskan ratusan orang dan melukai ratusan lainnya, maka selain membuka sejumlah rekening MER-C juga melakukan penggalangan dana melalui SMS.
Di saat liburan panjang dan tutupnya bank-bank, maka SMS merupakan cara yang sangat praktis bagi masyarakat yang ingin memberikan donasinya untuk rakyat Palestina. Program SMS Donasi ini pun segera menyebar secara berantai di masyarakat luas.

Sejak ditetapkan sebagai SMS donasi yang diamanahkan khusus Palestina pada 29 Desember 2008, tercatat sampai Sabtu (3/1) jumlah SMS donasi yang masuk sebanyak 52.002 sms atau setara dengan Rp 255.035.000.

Program sms donasi ini merupakan layanan yang disediakan oleh Departemen Sosial RI bekerjasama dengan sejumlah operator seperti Telkomsel, Indosat, Flexi, Esia, XL dan Mobile-8. Untuk Telkomsel, Indosat, Flexi, Esia, tarif sms adalah Rp 6.600sudah termasuk donasi Rp 5.000 ditambah biaya operator dan PPn. Sementara untuk pengguna XL dan mobile-8 tarif sms adalah Rp 5.000 sudah termasuk donasi Rp 3.750 ditambah biaya operator dan PPn. Karena informasi SMS donasi ini juga disebarkan via sms sehingga kami mohon maaf apabila informasi tarif ini tidak tersampaikan secara lengkap dan detail kepada masyarakat.

Kami juga mohon maaf karena adanya sejumlah gangguan yang dilaporkan oleh masyarakat dalam layanan SMS donasi ini seperti layanan yang tidak dapat diakses, pemotongan pulsa yang agak terlambat dan lainnya. Perlu kami sampaikan bahwa hal ini terjadi semata-mata karena trafik sms yang sangat tinggi selama beberapa hari ini.

Kami mengucapkan terima kasih atas partisipasi masyarakat Indonesia baik yang telah memberi sumbangan melalui layanan sms donasi ini maupun yang telah membantu menyebarluaskannya. Bagi masyarakat yang ingin mengecek trafik donasi, silahkan mengunjungi http://donasi.depsos.go.id.

merc@indosat.net.id

Oleh: fayday | Desember 5, 2008

Mengapa Manusia Takut Ular?

Kebetulan saya orang yang takut dengan ular, hal ini dimulai saat saya SMA dan digigit ular hingga harus mendapatkan suntikan anti bisa hingga 20 coblosan. sejak saat itu rasa geli dan takur terhadap ular menjadi bagian dari hidup saya. Saya bukan ular-phobia lho..walaupun takut, saya tidak teriak atau lari terbirit jika melihat ular..hanya merinding dan geli.
Ternyata takut ular itu adalah kewajaran, hal ini saya baca pagi ini di www.inilah.com.
berikut petikannya..

Inilah.COM, London – Takut ular merupakan pobia yang hampir dimiliki oleh semua manusia. Lalu bagaimana ketakutan itu bisa terjadi? Kini ilmuwan punya jawabannya.

Sebuah penelitian mendapati, manusia memiliki perasaan takut pada ular dan laba-laba sebagai bawaan lahir. Ilmuwan menyimpulkan, baik anak-anak maupun orang dewasa dapat mendeteksi foto ular diantara benda yang menakutkan lain, secara lebih cepat.

Perasaan takut pada ular ini membantu manusia selamat dari dunia liar.”Ini sudah berlangsung dalam sejarah evolusi, manusia bisa cepat belajar takut pada ular dan menjadi keuntungan saat bertahan dan bereproduksi,” kata Vanessa LoBue, dari Universitas Virginia.

“Manusia yang memiliki kemampuan mendeteksi kehadiran ular lebih cepat tampaknya didapat dari gen,” tambahnya.

Sebelumnya, ahli antropologi mengatakan kewaspadaan pada ular menjadikan perkembangan primata memiliki penglihatan lebih baik serta otak lebih cerdas.

Penelitian mendapati bayi dan anak balita tidak takut ular. Namun memiliki kemampuan tidak biasa dalam mendeteksi ular, dan akan belajar takut pada ular jika mengalami pengalaman buruk.

Untuk mempelajari lebih jauh, ilmuwan menunjukkan orang dewasa dan anak umur 3 tahun gambar ular bersama dengan kodok, serangga dan bunga. Kemudian obyek ini ditunjukkan gambar bunga atau kodok bersama dengan ular. Dua kelompok ini mampu mendeteksi gambar ular yang tersembunyi lebih cepat dibandingkan gambar lain.

“Kami juga mempelajari dengan laba-laba dan mendapatkan hasil yang sama,” kata LoBue.[ito]
Tags : ular, sains

Diceritakan ada seseorang yang terdampar disebuah pulau yang kecil yang tak berpenghuni. Puau kecil itu hanya ditumbuhi pohon2 kecil, semak2 dan pohon kelapa. Tidak ada yang dapat dimakan untuk memenuhi hasrat lapar kecuali buah kelapa itu. Ditbawah terik matahari dan tubuh yang gontai hampir tanpa tenaga -karena berhari-hari terombang-ambing ombak sebelum dihempaskan dipantai- dia memanjat batang pohon kelapa yang licin. Pohon kelapa yang mulus tanpa pahatan untuk memanjat semakin menguras tenaga orang itu, walau demikian tidak mengendurkan semangatnya untuk mencapai puncak pohon dan memetik kelapa untuk menawar rasa laparnya. Ditengah perjalanan menuju puncak, seiring menurunnya tenaga, berhembus angin laut yang kencang menghempas pohon tersebut dan membuat batangnya limbung layaknya orang mabuk sedang berjalan. Sedemikian kencangnya tiupan angin hingga menggugurkan bunga-bunga kelapa kering dan buah kelapa menimpa badan dan kepala orang itu.

Semua tantangan itu tidak menyurutkan semangat orang tersebut untuk memanjat dan memanjat terus hingga berhasil memetik buah kelapa dipuncak pohon yang dipanjatnya. “Semua tantangan ini harus dilalui,” gumamnya,”lebih baik mati kehabisan tenaga karena usaha daripada mati kelaparan tidak berbuat apa-apa”. Hingga akhirnya dia mencapai puncak pohon itu dan mendapatkan biah kelapa yang dia inginkan sebagai penawar lapar. Sambil menikmati buah kelapa muda yang sedikit demi sedikit mengisi ruang-ruang kosong dalam perutnya, tidak lupa dia juga meminum segarnya air kelapa sembari menikmati pemandangan garis panti di pulau itu yang sangat indah.

Lembayung senja membayang diatas horison pantai seiring berhentinya amukan angin laut yang berganti dengan usapan lembut sang angin menjelajahi pulau kecil tersebut. Tidak terasa dia hampir menghabiskan harinya hanya untuk mendapatkan buah kelapa yang kini sedang dinikmatinya. Perut sudah penuh terisi buah kelapa, demikian juga dahaga sudah ditawarkan dengan air kelapa yang segar dan usapan lembut angin laut di sore itu seolah memberinya ucapan selamat atas keberhasilannya menggapai cita-cita –mempertahankan hidup, memperoleh makanan, mengembalikan tenaga dengan memakan buah kelapa-. Sejenak dia menyandarkan tubuhnya diantara bunga2 kering kelapa dan pokok-pokok pelepah kelapa yang bertautan, beristirahat sejenak menikmati keindahan pantai yang memancarkan sinar keemasan disenja hari sebelum akhirnya dia ingin meluncur menuruni pohon itu dan kembali menjejakkan kakinya dipantai. Perut yang kenyang dan lembutnya belaian angin pantai membuat mata sulit terbuka dan akhirnya dia terkantuk-kantuk diatas pohon kelapa yang bergoyang-goyang lembut bagai ayunan bayi.

Tak seberapa lama terlihat sesuatu meluncur dari puncak pohon kelapa itu menuju pasir pantai yang putih. Bukan seekor tupai, bukan pula buah kelapa, pun bukan reruntuhan bunga2 kering kelapa yang tertiup angin, tetapi tubuh sesorang yang melayang ke tanah seperti asteroid jatuh kebumi, berdebum dan membentuk cekungan diatas pasir pantai.

Orang itu terbunuh bukan pada saat dia berjuang melawan rintangan tetapi saat dia terlena menikmati keberhasilannya.

Baca Lanjutannya…

Oleh: fayday | Oktober 27, 2008

Harusnya Label Haram, Bukan Label Halal

Senin, 27 Okt 2008 06:28

Awal pekan ini saat masuk kerja dan membuka web eramuslim, saya tertarik dengan artikel ini, sehingga saya muat di blog ini dan semoga bermanfaat bagi kita.
——————————————————————
Pekan lalu, ba’da Maghrib, saya dan sahabat saya berada di rumah seorang pejabat BUMN di selatan Jakarta. Di ruang tamunya yang asri, kami bertiga asyik berdiskusi tentang berbagai masalah terkini, dari kondisi berbagai BUMN di Indonesia yang menyedihkan sampai krisis global yang pasti dampaknya akan berimbas sampai di negeri ini. Tanpa terasa, malam kian larut. Kami pun pamit.

Di dalam kendaraan menuju pulang, berbagai bahan diskusi masih berkecamuk di benak saya. Salah satunya, yang menarik, adalah kesalahan paradigma yang selama ini dianut oleh kita semua. Masih terngiang di telinga saya, sahabat saya berkata, “Selama ini kita banyak yang salah dalam mempersepsikan pikiran. Contohnya adalah soal label halal. Padahal yang seharusnya adalah label haram. Indonesia adalah negeri Muslim terbesar dunia, sudah seharusnya semua makanan atau produk yang ada di negeri ini memenuhi syarat kehalalan. Jadi, yang perlu ditempeli atau dilabeli adalah produk-produk yang haram dengan label haram.”

Saya dan tuan rumah sempat terhenyak. Baru sadar dengan kesalahan persepsi ini. Walau kelihatan sepele namun sangat prinsipil dan sangat penting untuk diubah. Memang, yang seharusnya dikasih label adalah makanan atau produk yang haram, dengan label “Haram”.
Baca Lanjutannya…

Oleh: fayday | Oktober 10, 2008

Belajar dari Film Laskar Pelangi

1. “Yang harus kalian ingat, anak-anakku: Jangan cepat menyerah. Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya”,

begitu kira-kira kata-kata Pak Harfan yang sangat saya ingat pada film laskar pelangi. Kalimat sederhana yang sarat makna dan menyadarkan saya bahwa kebanyakan waktu hidup saya habiskan untuk berusaha keras agar “menerima sebanyak -banyaknya”. Dari contoh kecil saja, saya sering menuntut anak saya mematuhi semua yang saya katakan, sementara memberi kasih sayang kepadanya kurang. Saya sering menuntut uang belanja istri harus selalu dihemat, sementara ditempat kerja “jajan makanan” seenaknya saja–enggak ngajak-ngajak makan lagi. Sering saya berdoa diberi keluasan rezeki tetapi untuk memberi infaq dan sodaqoh sangat sulit dan keberatan –mulai sekarang harus berubah nih..–

Pada kenyataannya dalam lingkungan kehidupan kita sekarang ini, banyak sekali yang bertentangan dengan nasihat Pak Harfan atau Pak Cik tadi, Kita berusaha menerima sebanyak-banyak bukan memberi sebanyak-banyak. Hal ini mengingatkan saya akan kata2 teman saya yang kebetulan dia lulusan STM. Dia berkata,”Pak, sampeyan kan lulusan S1 Universitas terkenal, mengapa selalu berusaha mencari kerja yang enak & bergaji tinggi, mengapa orang-orang pintar tidak berpikir membuka usaha dan mempekerjakan dan memberi nafkah pada orang2 lainnya..?” Saat itu saya tertegun dan sampai saat ini saya belum bisa menjawab atau bahkan mewujudkan pertanyaan itu. Semakin pintar orang dibangku kuliah, semakin berpikiran untuk menjadi “buruh kaya” di perusahaan orang lain, jangankan yang pintar…yang bodoh dan lulusnya 6 tahun-lebih kayak sayapun “cemlolo dan nggleleng” mencari kerja yang enak dan bergaji tinggi..ya..kalau enggak kesampaian ya jadi pegawai negeri-lah. Alih-alih memikirkan usaha untuk membantu dan memberi sebanyak-banyaknya kepada orang lain, ngurusin lowongan kerja untuk diri sendiri saja mumet gak karuan.

2. ”Mimpi aku bukan jadi istri saudagar. Mimpi aku jadi guru.”
Kata-kata Bu guru Muslimah yang sangat mengharukan.
Bu Mus bercita-cita mengabdikan dirinya tanpa memikirkan kaya atau miskin yang harus diterima sebagai impact dari usaha mewujudkan cita-citanya tersebut. Tapi dijaman sekarang ini saya yakin masih banyak wanita mulia yang seperti Bu Mus tersebut. Baca Lanjutannya…

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.