Oleh: fayday | Desember 15, 2007

Pembelajaran Kontekstual di Playgroup Anakku — TK IT Lebah Kecil

Tadi malam (15 Dec 2007), istri saya bercerita kelucuan anak saya yang pertama, Fathan. Anak saya kangen sekolahannya playgroup dan TK IT Lebah Kecil. Saat tidur siang, sekitar jam 14.00, anak saya tiba-tiba bangun dan menangis dan minta diantar ke sekolahnya, cerita istri saya. Dan kelucuan tidak hanya sampai disitu, anak saya juga minta dipakaikan baju seragam playgroup-nya untuk bersiap pergi sekolah mendadak siang itu.

Karena “menangis kekejer” dan tidak mau dibujuk, akhirnya istri saya menuruti keinginan anehnya itu..setelah selesai berpakaian seragam playgroup yang berbentuk kaos oranye, bermerk danish dan bergambar lebah, akhirnya istri saya mengantarnya ke sekolahan yang letaknya sekitar 150m dari rumah. Sambil menggendong anak kedua saya yang berumur 9 bulan, istri saya bertanya kepadanya, kenapa mau pergi sekolah padahal kan sekolah sudah bubar..? anak saya diam saja pokoknya minta sekolah. Sesampainya disekolah, dia heran karena sekolah kosong..dan akhirnya dia bingung. Istri saya lngsung faham dan berkata, “mas fathan pasti mimpi mau berangkat ke sekolah ya..? mimpi itu..”
Anak saya pun akhirnya malu-malu dan pulang. Mimpi ke sekolah, kangen ke sekolah, bagi anak 3 tahun seusia Fathan agak jarang. Begitu hebatnya sekolah playgroup itu hingga anak2nya sangat suka ke-sekolah.

TK/Playgroup Anakku–Lebah Kecil
Anakku berusia 3 tahun, dan kami memutuskan untuk memasukkannya ke playgroup saja, daripada hanya main dan nonton sinetron dirumah. Seminggu masuk 3 kali, Selasa, Kamis dan Jum’at. Kami pun memasukkannya ke TK IT Lebah kecil, yang juga menyediakan playgroup. TK tersebut baru 3 tahun berdiri, tetapi muridnya sudah hampir 70 anak. Yang menjadi pertimbangan kami memutuskan untuk memilih TK Lebah maut ..eh..Lebah kecil itu adalah ke-unikannya dibandingkan sekolah biasa, antara lain :
- Jumlah gurunya tergantung jumlah muridnya. Setiap 5 murid mempunyai 1 guru (pantesan agak mahal bayarnya ya..he..he..)
- Bangunannya berbentuk saung-saung (beberapa gubuk) karena lahannya kebun yang luas.
- Murid tidak boleh ditungguin orang tuanya, tetapi hanya boleh diantar dan dijemput.
- Seragamnya kaos training, karena setiap hari bermain2 dilapangan dan kebun.
- Setiap bulan ada pertemuan orang tua sekaligus pengajian..
- Setiap sore ada TPA untuk alumnusnya (walaupun sudah bersekolah di SD)

TK anakku juga punya sejarah yang unik, sekolah ini memang didirikan bukan untuk dikomersialkan. Ceritanya, Izza anak Mbak Ine (pendiri/kepala sekolah) saat TK, disekolahkan ke TK unggulan. Tetapi suatu hari sepulang sekolah dia jadi males sholat dan tidak mau mengaji. Ketika ditanya oleh umi-nya, dia menjawab bahwa temannya saja enggak ngaji dan sholat, tetapi pinter. Pinter karena belajar dan bukan karena sholat dan mengaji. Kedua orang tua Izza pun kaget dan akhirnya langsung cepat2 ambil keputusan, anaknya dikeluarkan dari TK tersebut dan membuat TK sendiri dilahan kebun keluarga mereka. Mendirikan sekolah sambil berdakwah…salut.

Pengajaran & Pembelajaran Kontekstual
Mungkin anda tahu istilah Pembelajaran dan Pembelajaran Kontekstual atau istilah kerennya CTL-Contextual teaching & learning. CTL adalah sistem pembelajaran dimana murid diberikan pelajaran yang membumi, yang dapat dia rasakan dan alami pada kehidupannya, bukan hanya rumus2 dan bayangan2 yang susah dibayangkan. Hal ini adalah sesuatu yang baru di Indonesia, tetapi sudah lama sekali diterapkan di jepang sejak akhir tahun 1970-an. Katanya, salah satu panduan wajib tentang CTL disekolah-sekolah jepang adalah buku novel Toto Chan, buku yang merupakan kisah nyata pengarangnya tentang cara belajar unik di SD-nya pada tahun 1940-an.

Contoh pengajaran kontekstual di TK/playgroup anak saya adalah kejadian kemarin.Karena mendekati hari raya Idul Adha, banyak sekali orang menjual kambing dijalanan. Contohnya dijalan dekat rumah saya, ada banyak kambing ditambatkan dipinggir tanah kosong. Sebagai anak kelahiran Jakarta, teman2 TK Fathan tentu jarang melihat kambing hidup. Saking kepinginnya, kemarin saat jam pelajaran, teman2 sekelas Fathan tidak mau belajar dan hanya mau melihat kambing. Akhirnya, murid seluruh playgroup diajak jalan2 melihat kambing yang dijual, dan pelajar hari itu hanya melihat kambing sambil diceramahin tentang qurban…he..he..enak juga ya.

Satu pembelajaran kontekstual yang sangat mengesankan saya terjadi bulan lalu, tanggal 19 November 2007. Ini cerita dari istri saya, saat pagi hari, orang tua murid mengantar anak mereka sekolah, tidak ada kejadian yang istimewa. Saat jam pulang, orang tua murid menjemput anak2nya, mereka kagget, karena dihalaman sekolah, anak2 mereka sudah menunggu para orang tua dengan berbagai macam dagangan yang diletakkan diatas meja didepan mereka.
Anak2 kecil itu merayu dan menawarkan dagangan dengan penuh kelucuan, ada yang mengibas-ngibaskan kain—pura2 mengusir lalat, ada yang kebingungan menghitung uang kembalian, ada juga yang diem cemberut hanya memandangi dagangannya. Ternyata sepagian itu para guru bekerja keras menyiapkan dagangan anak2 TK dan playgroup tersebut dan mengajarinya berdagang. Mengajari berdagang—bukan membiarkannya jajan.

Pembelajaran Kontesktual yang lain disekolah TK antara lain

  • setiap hari Jum’at, sekali dalam sebulan, mereka jalan2 mengunjungi masjid dan belajar berwudhu dan sholat dimasjid yang dikunjungi.
  • Pada bulan puasa, anak2 TK yang masih kecil, tidak boleh makan dan minum disekolah (dan tentunya juga diberikan pelajaran tentang puasa).
  • Pada saat bulan puasa tahun ini, hari terakhir masuk sekolah, anak2 disuruh membawa aneka makanan yang sudah ditentukan. Makanan itu dibungkus oleh guru-guru mereka, dan selanjutnya anak2 kecil itu diminta membagi-bagikan makanan itu ke anak2 kecil yang tinggal disekitar sekolah. Mereka juga membagikan bingkisan2 untuk orang2 yang tidak mampu disekitar sekolah..sangat indah sekali kegiatan ini.
  • Idul Adha tahun kemarin TK ini juga menyembelih hewan kurban sumbangan orang tua murid dan setelah dibungkus. Anak2 lah yang membagikannya kerumah-rumah sekitar. Memang momentnya sudah lewat hari raya, tapi yang penting setiap siswa merasakan indahnya memberi dan beramal.

Saya yakin hal semacam ini sangat berkesan diingatan mereka hingga tua nanti.


Tanggapan

  1. misi….numpang tanya, di PG ini minimal usia masuknya berapa tahun dan spt biasa…….brp biaya sekolahnya…
    thanks…

  2. masuk PG ini 2.5 tahun atau 3 tahun pak.
    biaya sekolahnya : saat masuk pertama, ada ada sumbangan 1.5jt, dan uang SPP sebulan 150rb.
    masuk seminggu 3 kali.

  3. Ass. wr. wb.
    Untuk TK IT lebah kecil lokasinya dimana yah?

  4. di Kel. Makasar, Kec. Makasar, Jakarta Timur (dekat daerah kramat jati)..mbak Rita tinggal dimana ya..?

  5. Salam kenal

    Mbak mau donk minta no tlp sekolahnya :)

  6. mas-nya tinggal dimana ya..? nanti insya Allah saya usahakan nomor telp. nya

  7. artikel ini akan saya print n berikan kesekolah PG anakku, hehehe
    anakku jg 3 tahun dan semenjak sekolah sudah hafal byk bacaan dan doa2 serta jd rajin sholat, smoga ntar bs kaya tk fay ini yah

  8. assalamualaikum bunda ine kaifa haluka

  9. assalamu’alaikum=)

  10. emmm…. Bagus sekali programnya, alhamdulillah ada sekolah yang memiliki karakter yang sama dengan Playgroup nya Fathan, namanya Play Group Al Huffazh di kota Payakumbuh Sumatera Barat, sekolahnya juga kreatif dalam memberikan metode pembelajaran, kreatif dan sgt memahami psikolis anak-anak… alhamdulillah,… pendidikan PAUD kita semakin baik….

  11. Subhanalloh, saya dan suami juga sedang merintis tk seperti yg ini, dan ternyata namanya juga sama, TKIT Lebah Kecil, bertempat di kota Pontianak. Berbekal dari pengalaman anak saya sewaktu sekolah TK di jakarta, tk pertama anak saya tidak ‘enjoy’ dan komentarnya adalah bosen, ‘mewarnai mulu mi’, akhirnya kami hunting tk alternatif. Alhamdulillah ketemu sebuat tk di kawasan pengadegan jaksel, yg berbentuk rumah terletaknya di dalam gang kecil, dan masuk lagi ke dalam gang yg lebih kecil, kebayang kan…klo hujan deras gangnya akan penuh air. Tapi subhanalloh, di situ anak2 menghapal surat, doa, hadist walaupun cukup banyak namun seakan tidak terbebani. Untuk anak yg tidak mampu akan disubsidi oleh siswa yg mampu dr segi ekonomi. Saya pribadi sangat sedih melihat TK2 yg sekarang banyak bertebaran, namun sangat membebani anak, padahal dunia bermain anak tidak akan terulang lagi. Doa’kan kami agar berhasil mewujudkan cita2 ini.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori