Oleh: fayday | Desember 19, 2007

Anak yang (dibanggakan atau membanggakan) orang tua

Sudah dua hari ini saya pulang cepat, dan sampai rumah sore hari, dimana di gang depan rumah kontrakan penuh dengan anak2 yang berlarian dimomong ibunya. Ibu2 itu menceritakan kepandaian anaknya masing-masing, dan segala sesuatu mengenai kelebihan anak mereka. Singkat cerita, ibu2 membanggakan anaknya.  Anda pun mungkin akan sedikit bingung dengan judul tulisan ini, apa beda kebanggaan dan membanggakan..? saya jawab : sangat beda sekali.
Untuk menarik kesimpulan tersebut saya akan menceritakan pengalaman saya saat mengantar anak saya Fathan mengikuti acara outbound di sekolahannya. Pada hari kamis, 29 November 2007, playgroup/TK IT “Lebah kecil”, sekolah anak saya mengadakan acara outbond ke water boom cikarang. Sangat yakin…inilah acara yang ditunggu-tunggu para orang tua, untuk membanggakan anaknya.

Sesampai di water boom, kegiatan outbond dimulai. Acara dimulai dengan outbond activity yang terdiri dari jalan diatas tali (dengan berpegangan pada 2 tali—posisi jalan maju), kemudian berjalan diatas tali (dengan berpegangan pada satu tali) dan diakhiri dengan flying fox. Kemudian acara dilanjutkan dengan makan siang, sholat dan kemudian acara renang.
Acara outbond anak-anak sangat berbeda dengan outbond orang tua, dibutuhkan kesabaran pemandu, guru dan dukungan semangat dari orang tua agar anak mau melakukannya. Giliran pertama, anak2 TK B (yang sudah 2 tahun sekolah di TK), melakukan semua aktifitas outbond tanpa banyak kesulitan. Tetapi pemandangan berubah saat anak2 TK A dan playgroup mendapat giliran melakukan outbond. Ada anak yang baru 2 langkah berjalan di tali sudah ketakutan dan minta turun, ada anak yang baru mau naik tangga panggungnya (yang tingginya 2m) saja sudah tidak mau. Untuk kasus ini terlihatlah peran guru dan orang tua.
Guru-guru terlihat sabar, memberikan motivasi dan semangat, sedangkan orang tua terbagi menjadi 2 kelompok,

  • Kelompok pertama, orang tua yang agak cuek, mereka memberi semangat dan kalau anaknya tidak mau atau takut naik panggung atau berjalan di tali ya sudah….
  • Kelompok kedua, orang tua yang perhatian, tapi saking perhatiannya cenderung mengerutu dan kadang marah-marah.

Kelompok ortu yang pertama jumlahnya sangat sedikit, tetapi untuk kelompok yang kedua, jumlahnya sangat banyak. Dan termasuk juga saya. Mereka cenderung ngedumel saat anak mereka “mokol” gak mau ikut outbond..mungkin merasa malu karena anak mereka tidak bisa seperti anak Ibu..A, Ibu..B dst, yang berani outbond dan flying fox. Loh..kok bisa menarik kesimpulan para orang tua merasa malu seperti itu..? yup bisa saja, dari omongan para orang tua yang pada umumnya akan ngomel dan bilang “Si A aja gak takut, padahal masih TK A, Si B aja cewek bisa…masak kamu takut dan gak bisa” Sementara semakin diomelin, anak akan semakin ngambek dan bahkan menangis. Orang tua semakin sewot dan marah.

Tidak beda dengan mereka, saya pun sama. Anak saya manjat tangga baru 1.5 meter saja sudah takut jatuh, saya bujuk2 tetap tidak mau. Akhirnya maklumat kata2 yang paling sering dikumandangkan pada hari itu keluar juga dari mulut saya, “Sabrin aja mau dan gak takut tuh mas, mas Fathan masak takut”. He..he..maksud hati untuk menyemangati anak saya, eh..malah anak saya ngambek. Saya pun agak kecewa, sudah dibelain cuti, bayar outbond, eh..anak saya malah gak mau melakukan activity. Sepertinya double rugi…..Tapi akhirnya istri saya, sambil menggendong anak saya yang kecil, mendekat dan berkata,”biarinlah..anaknya gak mau ya sudah..gak usah sewot…yang outbond bapaknya apa anaknya..? gak mau kok dipaksa-paksa”

Kata-kata sakti itu akhirnya menyadarkan saya, saya telah melakukan kesalahan yang besar, membebankan harkat dan martabat keluarga (dalam bentuk rasa bangga dan malu) pada anak saya yang masih 3 tahun. Bayangkan…3tahun..anak harus membuat bangga orang tuanya, harus tampil sempurna agar orang tuanya tidak malu dihadapan orang tua yang lain…..

Anda akan berbuat kesalahan yang sama dengan saya kalau masih memegang kata2 anak dalah kebanggaan orang tua, atau anak-anda yang dibanggakan keluarga. Biarlah anak anda menjadi anak yang membanggakan orang tuanya dengan caranya sendiri.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: