Oleh: fayday | November 7, 2007

3 Magic Words (Tolong, Terima Kasih dan Maaf)

Pada tanggal 1 Nov 2007, saya melihat acara kick andy di metro tv. Saat itu bintang tamunya Sri Sultan Hamengkubuwono X. Ada sekilas kalimat yang meluncur dari beliau saya ingat betul. Beliau berkata,”Walaupun anak saya mempunyai pembantu tapi saya mengajarkannya -untuk berkata “tolong” saat menyuruhnya, -untuk berkata “terima kasih” saat menerima hasil kerjanya (pembantu), dan untuk berkata “maaf” jika bersalah padanya.

The 3 magic words ini sebenarnya sudah pernah saya dapatkan dari istri saya. tapi saya tidak pernah memperhatikannya (kebiasaan laki-laki).
Istri/Suami kita bukanlah pembantu kita, juga bukan budak kita, tapi dalam berumah tangga, pastilah dia yang paling sering kita “suruh” dan menjadi sasaran “amarah” dan kesalahan kita. Karena bukan pembantu kita, sudah selayaknya kita minta tolong kepada suami/istri kita saat menyuruh mengambilkan sesuatu. “Tolong”, kata yang menunjukkan posisi yang kita suruh sederajat (atau bahkan lebih tinggi) dari kita. “Tolong” juga merupakan ungkapan penghargaan pada martabat pasangan kita.

Pasangan (suami/istri) kita adalah orang yang kita hormati, sering kita-repoti, dan kita tiada pernah menggaji. Hasil kerjanya adalah ke-ikhlasannya membantu kita orang yang paling dikasihinya. Jadi selayaknyalah kita mengucapkan “terima kasih” setelah mereka mengerjakan sesuatu untuk kita.

Kebanyakan kita dalam ikatan keluarga, melakukan kesalahan yang tidak disengaja. Kita hampir tidak mungkin tidak berbuat salah kepada orang yang kita cintai. Kesalahan yang tidak sengaja itu antara lain, menumpahkan amarah dan kekesalan kita (yang seharusnya ke orang lain) kepada orang yang kita cintai. sebagai contoh, seorang ibu yang capek dan kesal mengurus anaknya, akhirnya ngomel ke suaminya saat dia pulang kerja. Kesalahan seperti itu biasanya tidak disadari oleh pelakunya. Untuk hal seperti inilah, kita dituntut untuk mengucapkan permintaan “maaf” secepatnya. Meminta maaf dan memberikan maaf adalah hal yang wajib.

Membericarakan masalah membuat kesalahan pada orang yang kita cintai, Pernahkan anda mendengar teori bahwa orang yang paling dekat dengan diri anda atau orang yang paling anda cintai adalah orang yang paling sering anda sakiti? teori itu betul pada faktanya. Kita sering tidak enak” untuk ngomel ke orang lain, dan anehnya kita justru begitu mudah marah atau jengkel dan ngomel kepada orang yang dekat dengan kita. Mungkin alasannya adalah kita beranggapan orang tersebut (yg dekat dengan kita) pasti memahami kondisi kita, sehingga walau kita omeli, dia pasti sabar.

Hal itu betul tapi tidak tepat. Adalah “Betul” orang yang paling dekat dengan kita biasanya mengerti keadaan kita dan cenderung sabar menerima “cobaan” dari kita. Tetapi “tidak tepat” kalau kita selalu
menumpahkan kekesalan dan amarah kita terhadap orang terdekat kita, apalagi orang yang kita cintai, karena hal itu berarti “menzdalimi” orang yang kita cintai. Dikhawatirkan karena menahan kesabaran dalam menerima “cobaan dan penderitaan” yang kita timpakan dalam waktu yang lama, akhirnya dia “membludak amarahnya” karena sudah tidak mampu lagi menahan diri. Diibaratkan bendungan yang sudah tidak mampu lagi menahan debit air banjir yang sangat besar.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: