Oleh: fayday | November 13, 2007

Menghindari Ghibah/Menggunjing

Menggunjing adalah sesuatu yang umum sekarang ini, sesuatu yang salah-kaprah (salah tapi umum dilakukan). Di angkringan, tukang sayur, tempat kerja dan dimanapun menggunjing sering dilakukan. Bahkan acara TV yang paling laris manis bagi pemirsa selain sinetron adalah gossip dan ngerumpi yang bisa disamakan dengan ghibah.

Nabi Muhammad bersabda:
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sepertinya sudah banyak sekali kajian dan tulisan mengenai ghibah, bersama dalil-dalilnya. Maka saya akan menulis artikel ini secara terbalik. Definisi/pengertian ghibah dan dalil-dalilnya akan ditulis dibelakang, sedangkan cara efektif menghindari ghibah saya tuliskan lebih dahulu.

Cara Menyaring Gossip/Ngerumpi/Ghibah
Ada teman yang cerita tentang cara menghindari ghibah. Menghindari ghibah dengan cara yang aplikatif dan mudah dimengerti. Untuk memudahkan pengertian, cerita teman saya itu saya ubah dan saya tambahkan beberapa hal yang semoga menjadikan lebih jelas.

Ceritanya ada seorang bijaksana, yang terkenal dapat menjaga ucapan dan perkataannya. suatu hari datanglah seseorang yang akan menceritakan sesuatu tentang temannya, dengan tergesa-gesa seperti memberikan kabar penting kepadanya.
“Wahai orang bijak, saya punya kabar untukmu,”kata si pewarta.
“sebelumnya, aku akan menguji dulu beritamu, sehingga aku dapat menentukan apakah berita itu boleh kita perbincangkan,”kata orang bijak.

“Pengujian yang pertama adalah : Apakah berita berisi kebaikan?,” tanya orang bijak.
“Sesungguhnya berita ini tentang keburukan seseorang,”jawab pewarta.
“Apakah kau tahu..membicarakan sesuatu yang buruk yang tidak disukai orang yang kita bicarakan adalah menggunjing dan itu dilarang..?” tanya orang bjak kepada pewarta tersebut.
Pewarta pun tertunduk, mulai merenungkan tindakannya dihadapan orang bijak.

“Baiklah, kita lakukan pengujian kedua : apakah ada manfaat jika kita membicarakan berita tentang orang tersebut?” tanya orang bijak,”misalnya berita itu berisi kezaliman seseorang yang nantinya bisa menjadi saksi dan bukti di pengadilan..?”
“Tidak sedemikian penting manfaatnya, karena berita ini hanya berita biasa saja,”jawab pewarta seraya semakin menundukkan wajahnya bercampur penyesalan.

“Berita yang kau bawa berisi keburukan seseorang dan tidak begitu besar manfaatnya. maka berita itu tidak baik untuk kita bicarakan dan termasuk ghibah ,”kata orang bijak sambil berlalu. tapi sedetik kemudian dia terhenti dan berkata,”
Mungkin kita bisa membicarakan berita itu, tapi aku akan menguji berita yang kau bawa untuk terakhir kali.”
Apakah kamu tahu pasti kebenaran berita itu?“tanya orang bijak.

Pewarta menjawab seolah bergumam,”sebenarnya berita itu saya dapatkan dari seseorang yang kebenarannya tidak saya saksikan atau ketahui dengan pasti,”

Orang bijak itupun berbalik menghampiri pewarta itu dengan berkata,”Jangan lagi kau lakukan hal seperti itu, beristighfarlah”.

Kebanyakan dari kita (terutama saya) sering mendengarkan berita yang tidak perlu dan bahkan berita itu tidak memenuhi 3 kriteria lolos ghibah yaitu : berita berisi keburukan seseorang, berita tidak membawa manfaat yang baik(sebagai bukti hukum, fatwa, dll) danberita itu belum pasti kebenarannya.

Pengertian Ghibah

Pengertian ghibah dapat diketahui dengan memperhatikan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya.
Beliau membawakan sebuah riwayat: Yahya bin Ayyub menceritakan kepada kami, demikian pula Qutaibah dan Ibnu Hajar. Mereka mengatakan: Isma’il bin Al-’Allaa’ menceritakan hadits kepada kami dari jalan ayahnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wa sallam bersabda: “Tahukah kalian apa itu ghibah?”, Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau bersabda, “Yaitu engkau menceritakan tentang saudaramu yang membuatnya tidak suka.” Lalu ditanyakan kepada beliau, “Lalu bagaimana apabila pada diri saudara saya itu kenyataannya sebagaimana yang saya ungkapkan?” Maka beliau bersabda, “Apabila cerita yang engkau katakan itu sesuai dengan kenyataan maka engkau telah meng-ghibahinya. Dan apabila ternyata tidak sesuai dengan kenyataan dirinya maka engkau telah berdusta atas namanya (berbuat buhtan).” (HR. Muslim. 4/2001. Dinukil dari Nashihatii lin Nisaa’, hal. 26)

Dari hadist ini jelaslah bahwa ngerumpi tentang seseorang dan ber-gossip ria adalah ghibah.

Adakah ghibah yang diperbolehkan..?

Imam Nawawi menjelaskan bahwa ghibah dibolehkan karena adanya tujuan yang dibenarkan oleh syariat yang tidak mungkin tujuan itu tercapai kecuali dengan menempuh cara ini. Ghibah yang dibolehkan ini ada enam sebab:
1. Mengadukan kezaliman orang kepada hakim, raja atau siapa saja yang mempunyai wewenang dan kemampuan untuk menolongnya. Seperti dengan mengatakan: “Si Fulan menganiaya saya dengan cara demikian.”
2. Meminta bantuan orang demi mengubah kemungkaran dan mengembalikan pelaku maksiat agar kembali kepada kebenaran. Seperti dengan mengatakan: “Si Fulan telah melakukan demikian maka cegahlah dia dari perbuatan itu!” atau ungkapan semisalnya. Tujuan dibalik pengaduan itu adalah demi menghilangkan kemungkaran, kalau dia tidak bermaksud demikian maka hukumnya tetap haram.
3. Meminta fatwa. Seperti dengan mengatakan kepada seorang mufti (ahli fatwa): “Ayahku menganiayaku.” atau “Saudaraku telah menzalimiku.” Atau “Suamiku telah menzalimiku.” Meskipun tindakan yang lebih baik dan berhati-hati ialah dengan mengatakan: “Bagaimana pendapat anda terhadap orang yang melakukan perbuatan demikian dan demikian (tanpa menyebut namanya)?”
4. Memperingatkan kaum muslimin dari kejelekan sebagian orang dan dalam rangka menasihati mereka. Seperti mencela para periwayat hadits dan saksi, hal ini diperbolehkan berdasarkan kesepakatan kaum muslimin, bahkan hukumnya wajib karena kebutuhan umat terhadapnya.
5. Menyebutkan kejelekan pelaku maksiat yang berterang-terangan dalam melakukan dosa atau bid’ahnya, seperti orang yang meminum khamr di depan khalayak, merampas harta secara paksa dan sebagainya, dengan syarat kejelekan yang disebutkan adalah yang terkait dengan kemaksiatannya tersebut dan bukan yang lainnya.
6. Untuk memperkenalkan jati diri orang. Seperti contohnya apabila ada orang yang lebih populer dengan julukan Al-A’raj (yang pincang), Al-Ashamm (yang tuli), Al-A’ma (yang buta) dan lain sebagainya. Akan tetapi hal ini diharamkan apabila diucapkan dalam konteks penghinaan atau melecehkan. Seandainya ada ungkapan lain yang bisa dipakai untuk memperkenalkannya maka itulah yang lebih utama (lihat Riyadhush Shalihin, dicetak bersama Syarah Syaikh Utsaimin, 4/98-99. penerbit Darul Bashirah)

Dalil-dalil diperbolehkannya ghibah semacam itu

Imam Nawawi menyebutkan dalil-dalil yang mendasari pengecualian ini, yaitu:

1. Dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha, beliau menceritakan bahwa ada seorang lelaki yang meminta izin bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau bersabda:

“Ijinkanlah dia, sejelek-jelek kerabat bagi saudaranya.” (Muttafaq ‘alaih)

Imam Nawawi berkata: Al-Bukhari berhujjah dengan hadits ini untuk menyatakan bolehnya mengghibahi para penebar kerusakan dan keragu-raguan aqidah.

2. Dari ‘Aisyah pula, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Aku kira si Fulan dan si Fulan tidak mengerti tentang agama kita barang sedikitpun.” (HR. Bukhari) Laits bin Sa’ad salah seorang perawi hadits ini berkata: “Kedua orang ini termasuk kalangan orang munafiq.”

3. Dari Fathimah binti Qais radhiyallahu ‘anha, beliau berkata: Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian aku katakan:“Sesungguhnya Abul Jahm dan Mu’awiyah telah melamarku maka bagaimana?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adapun Mu’awiyah, dia itu miskin tidak berharta. Sedangkan Abul Jahm adalah orang yang tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya.” (Muttafaq ‘alaih). Dalam riwayat Muslim diriwayatkan, “Adapun Abul Jahm adalah lelaki yang sering memukuli isteri.” Ini merupakan penafsiran dari ungkapan, “tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya.” Dan ada pula yang mengatakan bahwa maksud ungkapan itu adalah: orang yang banyak bepergian.

4. Dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:Kami pernah berangkat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menempuh suatu perjalanan. Pada saat itu orang-orang mengalami kondisi yang menyulitkan, maka Abdullah bin Ubay berkata: “Janganlah kalian berinfak membantu orang-orang yang ada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai mereka mau bubar.” Dia juga mengatakan, “Seandainya kita pulang ke Madinah, maka orang-orang yang kuat akan mengusir yang lemah.” Maka aku pun menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kukabarkan hal itu kepada beliau. Kemudian beliau pun mengutus orang untuk menanyakan hal itu kepada Abdullah bin Ubay. Maka dia justru berani bersumpah dengan serius kalau dia tidak pernah mengatakannya, maka mereka pun mengatakan, “Zaid telah berdusta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Maka ucapan mereka itu membuatku diriku susah dan tersakiti sampai akhirnya Allah menurunkan firman-Nya untuk membuktikan kejujuranku, “Apabila orang-orang munafiq datang kepadamu.” (QS. Al-Munafiquun: 1) Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil mereka supaya meminta beliau berdoa memintakan ampun bagi mereka akan tetapi mereka justru memalingkan kepala-kepala mereka. (Muttaafaq ‘alaih)

5. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata:

Hindun isteri Abu Sufyan mengadu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Abu Sufyan adalah lelaki yang pelit, dia tidak memberikanku sesuatu yang bisa mencukupi kebutuhanku dan anak-anakku kecuali yang sengaja kuambil sendiri darinya dalam keadaan dia tidak tahu, lantas bagaimana?.” Beliau bersabda, “Ambilah sebanyak yang bisa mencukupimu dan anak-anakmu.” (Muttafaqun ‘alaihi) (lihat Riyadhush Shalihin, dicetak bersama Syarah Syaikh Utsaimin, 4/100 dan 104)

sumber : www.muslim.or.id  dan pengalaman pribadi


Responses

  1. agama adlah pedoman yang harus ditanamkan dalm diri setip umat manusia.

  2. Saya sangat berterimakasih atas artikel ini dan saya coba print kasihkan ke istri biar sadar

  3. thx y bntu nylain tgas

  4. Terima kasih ats artikelnya

  5. ini tips sangat bagus untuk kita pelajari, supaya jauh dari ghibah,

  6. wahai kaum muslimin dan muslimat,
    Sadarlah, janganlah kamu suka mengghibah orang lain,

  7. sipp

  8. […] https://fayday.wordpress.com/2007/11/13/menghindari-ghibahmenggunjing/ […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: