Oleh: fayday | Desember 21, 2007

Anak Juga Manusia

Pernahkah anda melihat/mendengar cerita kurcaci..? kurcaci hidup diawasi oleh 2 raksasa. Raksasa yang satu sangat cerewet, suka mengatur segala sesuatunya, setiap hari marah-marah, tapi punya rasa kasih sayang. Sedangkan raksasa yang satunya jarang terlihat, jarang bicara, tapi suka memukul pantat, menjewer telinga dan mencubit kurcaci tersebut. Stress kurcaci tidak hanya sampai disitu, kedua raksasa tersebut mengatur segala sesuatu kehidupannya hingga membuatnya seolah-olah seperti Tuhan dan seringkali mereka sok tahu kebutuhan kurcaci tersebut dan memaksakannya.Terkadang sang kurcaci masih kenyang, tetapi disuruh makan. Sedang asyik2 nya bermain — disuruh tidur, tidak mengantuk diharuskan tidur, diharuskannya kurcaci memakai pakaian yang bagus (menurut mereka) tapi sebenarnya gerah dan tidak nyaman menurut kurcaci tersebut.

Bagaimana jika kedua raksasa tersebut adalah kita, dan kurcaci itu adalah anak kita…?

Ada tiga kemungkinan yang terjadi pada anak sebagai respon terhadap sikap orang tua yang mengatur dengan ketat anaknya dan seringkali memarahinya. Kemungkinan pertama adalah patuh, kedua adalah menentang/membangkang dan yang ketiga adalah acuh dan berusaha membalas dengan cara yang menjengkelkan.

Anak Tipe Patuh, anak cenderung patuh (apalagi kalau dimarahi), tetapi menimbulkan trauma dan menghilangkan kreativitas anak. Anak akan takur mencoba, karena khawatir akan akibat yang dia tanggung dikemudian hari.

Anak Tipe Penentang, anak cenderung selalu menentang, dia akan melawan sejadi-jadinya walaupun dimarahin. Jika, orang tua semakin jengkel dan dicubit, dia akan menangis dengan sangat keras disertai keluarnya omelan dari mulut kecilnya (omelan yang ditiru dari orang tuanya). Dia akan berusaha mempermalukan orang tuanya, ini sering terlihat di mall-mall, anak menangis bergulingan dilantai dan berteriak sekeras-kerasnya. Seolah ingin menunjukkan kesemua orang betapa kejamnya orang tuanya.

Anak Tipe Acuh, anak tipe ini yang menjadi “musuh sejati” kesabaran orang tua. Mereka saat dimarahi atau dinasehati biasanya mau nurut, walaupun tidak sesuai dengan keinginannya. Tetapi sejurus dengan itu, mereka sudah menyiapkan “serangan balasan yang halus dan mematikan”.

Pengalaman Kami
Jika anda mengira kalau anak yang masih balita, bahkan dibawah 3 tahun tidak mempunyai harga diri, rasa malu bahkan rasa dendam, anda salah besar dan anda dalam masalah besar. Beberapa pengalaman kami menunjukkan bahwa anak kecil mempunyai semua perasaan orang dewasa, yang tidak mereka punyai hanya perhitungan yang secermat orang dewasa (karena adanya perbedaan pengalaman hidup).

Pengalaman yang pertama adalah anak saya nangis hingga bergulingan didepan rumah tetangga. Tidak biasanya kejadian seperti itu. Setelah malam, saat akan tidur, barulah saya dan istri saya bertanya kepadanya dan yang mengejutkan anak saya kesel karena dimarahi didepan temannya dan setelah itu diejek temannya. Sejak saat itu kami tidak pernah memarahinya didepan orang.

Pengalaman Kedua, anak saya sangat suka mobil-mobilan “Hot Wheels” produksi mattel. Suatu saat dia sangat ingin beli Hot Wheels model tertentu, dan istri saya melarangnya karena dirumah dia sudah punya banyak Hot Wheels berbagai model. Dan juga anak saya memainkan Hot Wheels-nya dengan sembarangan dan sering jatuh, sehingga lecet2 dan jelek. Istri saya membujuk fathan dengan berkata,”di rumah sudah banyak, tidak usah beli ya!”. Anak saya diam saja sambil cemberut, tapi menurut (saat di Carrefour). Tetapi besoknya, anak saya jadi baik hati, koleksi Hot Wheels lamanya dikasih temen2nya, sehingga istriku kaget, karena mendadak baik hati. Dan tanpa diduga, dia meminta dibelikan Hot Wheels lagi ketika pergi ke carrefour karena jumlah Hot Wheels tinggal sedikit.
Janji harus dipegang teguh — pelajaran yang diajarkan dikeluarga saya. Akhirnya, istri saya pun terpaksa menyerah, membeikan Hot Wheels yang baru untuk anakku. Cerita Hot Wheels ini akan saya posting tersendiri karena banyaknya cerita lucu berkaitan dengan Hot Wheels anakku.

Pengalaman ketiga, saya sangat berbeda dengan istri dalam menangani “keanehan” anak saya. Saya tidak menyebutkan nakal – karena memang semua yang dilakukan anak2 yang menurut kita nakal, sebenarnya adalah hal yang wajar bagi anak2. Istri saya, cenderung memberikan nasehat, logika dan bujukan untuk mengatasi “keanehan” fathan. Sedangkan saya, jika sudah saya nilai keterlaluan, pasti langsung saya marahi. Contoh yang paling saya ingat adalah ketika anak saya menggambari tembok rumah dengan pulpen dan tidak mau corat-coret dikertas. Sepanjang tembok dicorat-coret dengan pulpen, walaupun sudah diperingatkan, tetap saja ruangan tengah dicorat-coret tidak karuan. Akhirnya saya memarahai anak saya, yang kemudian menangis tetapi perkara langsung selesai. Tetapi akibatnya sagat luar biasa, anak saya tidak mau lagi menulis, atau mencoba mencorat-coret karena ketakutannya akan dimarahi.
Akhirnya istri saya membolehkannya untuk mencorat-coret tembok tetapi dikasih tempat khusus, tembok dekat tumpukan mainan dia dan tembok didepan TV. Jadilah anakku memiliki tembok graffiti-nya di dua tempat (dan tempat lain tetap bersih dari coretan).


Responses

  1. Terimakasih info nya, tapi ada hal yang ingin saya tanyakan, … PAUD saya sudah mendapatkan surat perihal bantuan Insentif Pendidik PAUD dari DEPDIKNAS pada tanggal 08 Januari 2008 yang lalu, No. 031/F4/TU/2008, menerangkan bahwa salah seorang dari dua SDM pendidik PAUD HUFFAZH Payakumbuh mendapatkan dana insentif an. Mursyida Masril. Tapi SDM tersebut istirahat karena sakit dan tidak lagi mengajar terhitung bulan 2007. Maka saya sebagai kepala sekolah sudah menelpon ibu Sarah Annisa untuk melakukan konfirmasi ini, agar bisa dialihkan untuk SDM PAUD yang masa kerjanya lebih awal dari Mursyida Masril, semua surat-surat dan pengesahan dari PLS Kota Payakumbuh sudah saya kirimkan ke Kantor Senayan Jakarta.

    Tapi …

  2. maaf saya salah kirim….

  3. Salam kenal….

    wah banyak nih koleksi Hot Wheels anaknya, hehe

    kalo mau lihat list Hot Wheels 2010 bisa mampir ke blog saya kalo berkenan, terima kasih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: