Oleh: fayday | Januari 11, 2008

Haji, semangat qurban dan fenomena sosial Indonesia

Hari ini kamis 10 Januari 2008, adalah tahun baru hijriyah 1429H. Semoga ditahun depan kita akan menjadi manusia yang lebih baik, baik sebagai hamba Allah dan sebagai makhluk sosial. Pada saat hari Idul Adha kemarin, kami sekeluarga sholat di Masjid At-Tien dan yang menjadi khotib adalah Menpora Adhyaksa Dault. Dalam khotbahnya beliau menyoroti tentang semangat qurban, kondisi bangsa dan juga para haji di negara ini.

Saya sempat tersentil saat beliau berkata, untuk ber-qurban sering kita memilih kambing yang akan kita jadikan hewan qurban bukanlah kambing yang terbaik (kambing yang biasa atau kelas A, bukan kelas Sangat Super), itupun masih ditawar sampai berjam-jam lagi…he..he.. Itupun terkadang kita masih membawa pulang kepala atau kakinya…
Mungkin kalimat tersebut terdengar sepele bagi kita, tapi cobalah kita dalami maknanya, jika untuk beribadah saja kita masih 3/4hati bagaimana dengan hal lain..? pastilah lebih banyak perhitungannya kan..? Cobalah kita meng-evaluasi diri kita, terkadang kita sangat berat untuk memasukkan uang Rp.5.000 ke kotak masjid saat sholat Jum’at yang seminggu sekali, tetapi kita dengan mudahnya jajan Rp.15.000 setiap hari.

Sangat benar perkataan yang menyebutkan bangsa kita perlu semangat ber-qurban Nabi Ibrahim dan Ismail untuk membantu bangsa ini bangkit dari keterpurukan. Semangat berqurban dan kejujuran sangat diperlukan untuk membangun bangsa ini. Rakyat yang miskin banyak berkurban (atau lebih ditepatnya di-kurbankan) dengan taat membayar pajak walaupun pendapat mereka pas-pasan. Tetapi semua itu tidak ada artinya jika penguasa tidak jujur dan mengkorupsi segala pengorbanan rakyat tersebut.

Sedikit melenceng dari bahasan qurban, tetapi masih dalam konteks haji…apakah anda punya cita-cita untuk menunaikan ibadah Haji..?saya yakin semua umat Islam sangat menginginkannya. Saya pernah bicara dengan istri saya, seandainya orang kaya yang sudah berkali-kali naik haji itu berbaik hati dengan hanya naik sekali saja dan sisa kekayaannya untuk membiayai ibadah haji orang lain, maka kemungkinan besar kita bisa menunaikan haji juga. Ironisnya yang terjadi di Indonesia adalah banyak orang yang lebih dari satu kali menunaikan ibadah haji dan berdoa semoga menjadi haji yang mabrur, tetapi dia bertetangga dengan orang miskin dan tidak memperdulikannya. Banyak haji yang tidak menemukan semangat qurban dalam ibadahnya. Mungkin sangat ekstrem tapi menurut saya realistis, jika semua umat islam punya semangat qurban dari nabi Ibrahim dan Ismail as, juga semua haji dari Indonesia menjadi Haji Mabrur, niscaya Indonesia akan maju dan tidak terpuruk seperti sekarang ini.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: