Oleh: fayday | Januari 11, 2008

Tahun baru yang menyedihkan

Hari ini kamis 10 Januari 2008, adalah tahun baru hijriyah 1429H. Terasa sangat beda antara tahun baru hijriah dengan tahun baru masehi, dari segi perayaan tentunya. Tahun baru Islam terasa sepi, senyap dan diisi dengan pengajian. Berbeda dengan tahun baru masehi yang diisi dengan kembang api beraneka warna dan hura-hura. Saya tinggal di Jakarta dan terus terang saya kecewa saat tahun baru masehi 1 Januari 2008 kemarin, bukan karena saya tidak bisa keluar lihat pesta kembang api dan hujan, tetapi karena banyaknya perayaan hura-hura di Jakarta sementara banyak orang lain tertimpa musibah banjir pasang di Jakarta Utara dan banjir disepanjang bengawan solo.

Bisa dibayangkan, seorang gubernur mengikuti pesta kembang api yang biaya untuk kembang apinya saja mencapai Rp. 300jt, yang diambel dari APBD tentunya dan itu adalah uang rakyat (termasuk didalamnya rakyat yang pada saat tahun baru kebanjiran air pasang laut). Dimakah kepekaan pemimpin-pemimpin kita..? apakah yang akan kita harapkan dari pemimpin yang tidak peka terhadap penderitaan rakyat..? dan yang harus diingat adalah pemimpin-pemimpin kita tersebut adalah muslim dan bahkan haji.

Saya jadi teringat khotbah Jum’at minggu lalu (4 Januari ’08) dipabrik saya. Ustazd Nur Yasin Lc yang menjadi khotibnya. Beliau menghimbau bahwa untuk memilih seorang pemimpin kita tidak boleh asal. Memilih pemimpin karena populer dan kaya, itulah yang terjadi sekarang ini, buukan memilih calon pemimpin yang pinter. Bagaimana sesorang yang kaya akan jadi pemimpin yang baik bagi rakyat Indonesia yang rata-rata miskin..? dia tidak pernah merasakan penderitaan rakyatnya dan yang dilaporkan sebagai keberhasilannya hanyalah banyaknya gedung megah yang dibangun dan indikator2 ekonomi makro yang sangat tidak mencerminkan keadaan rakyat Indonesia.

Kembali lagi ke khotbah Jum’at tersebut, khotib mengatakan bahwa bangsa kita akan mundur lebih dari 5000 tahun jika memilih seorang pemimpin karena kaya dan kekuasaanya. Kita tentu ingat pada kisah Jalut dan Thalut, pada QS. Al Baqarah : 247 dikisahkan bahwa kaum Bani Israel menyangsikan pengangkatan Thalut menjadi pemimpin mereka karena dia tidak memiliki kekayaan yang cukup. Kejadian yang disebutkan di Al Qur’an tersebut terjadi lebih dari 5000 tahun yang lalu. Dan anehnya kesalahan tersebut diulangi lagi oleh bangsa Indonesia. Mungkin sebaiknya kita tidak usah mengendarai mobil jika bepergian kalau seperti itu, lebih baik kemana-mana jalan kaki dan memakai api sebagai obor.

Tapi bagaimanapun terbersit harapan dan juga doa, semoga tahun ini bangsa Indonesia menjadi lebih baik dan makmur.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: