Oleh: fayday | Januari 28, 2008

I love how you love me

Alhamdulillah hari Jum’at (25 Jan ’08) saya bisa bangun pagi, kebetulan juga karena anak saya batuk terus dan membangunkan saya minta dibuatkan susu. Karena bangun pagi maka saya sempat membantu istri untuk mencuci piring, mencuci baju (dan tentunya dibantu oleh mesin cuci) sekalian menjemur dan menggoreng lauk sendiri. Wuaahhh pekerjaan biasa-biasa aja sih (kecuali ngucek celana anak kecilku yang banyak kencing, muntah dan e-eknya) tapi bagi saya sangat luar biasa mengingat pukul 5.40 saya harus sudah keluar rumah untuk menjemput rejeki—bekerja sebagai karyawan pabrik. Mungkin setelah hampir 4.5 tahun saya menikah, pagi ini termasuk pagi yang paling rajin bagi saya (wuueleeehhh…itu menurut saya sendiri lho..). Dan kegiatan bantu2 istri itu berlanjut hingga hari sabtu dan minggu-nya, walaupun hari tersebut saya masuk kerja (karena ada persiapan menyambut kunjungan CEO di pabrik saya). Tiga hari kemarin seolah-olah menjadikan hidup saya fresh kembali, karena setiap pagi saya melakukan kegiatan rutin ibu-ibu rumah tangga dan para pembantu –cuci piring, nyapu dan mengepel, cuci baju dan menjemur pakaian dan membantu masak—.

“Semua itu pekerjaan ibu-ibu, pekerjaan bapak2 adalah nyari uang”, begitulah kata bapak2 tetangga saya menjelaskan falsafahnya. Saya jadi teringat komentar seseorang yang menyebut suami takut istri jika melihat sang suami sedang–mengerjakan pekerjaan ibu rumah tangga atau pembantu—. Saya jadi jengkel juga, tidak tahu semenjak tahun berapa masehi pekerjaan mencuci baju, menjahit baju dan menyapu disematkan sebagai pekerjaan gender perempuan. Sementara lebih dari 1430 tahun yang lalu, manusia paling agung dan mulia didunia mengerjakan penambalan bajunya sendiri. Muhammad SAW, Panglima besar yang garang memimpin dimedan perang , manusia paling sempurna dan paling mulia dan mempunyai kekuasaan yang sangat luas mengerjakan tambalan bajunya sendiri.

Hal pertama yang saya lakukan setiap kali saya menyapu lantai dan saat mengepel adalah menutup pintu depan. Jangan sampai saat saya merangkak2 dan berjongkok mengepel, terlihat tetangga saya atau orang lain dari jalan karena –akan menjadi bayang2 gelap sepanjang hayat— begitulah hal yang saya pikirkan selama ini.Walaupun saya bukan selebritis, tetapi jika ada orang melihat suami merangkak2 dibawah kaki kursi tamu, sementara istri “hanya menggendong anak” sambil menyuapi, akan menjadi aib yang sangat laku untuk diperbincangkan seluruh penduduk RT.

Bukan untuk membela diri, tapi sejujurnya memang saya kasihan melihat sibuknya istri saya merawat 2 anak laki2 kecil yang super-aktif ditambah seorang lelaki dewasa yang banyak kemauannya. Dari sehabis subuh menyiapkan teh hangat, menggoreng lauk, menyiapkan bubur saring anakku yang kecil, sambil memasukkan cucian ke mesin cuci, membuatkan susu anakku yang besar dan segala “thethek bengek” yang sepele tapi merepotkan. Belum lagi menyapu dan mengepel lantai (yang harus dikerjakan pagi hari) sebelum digunakan sebagai arena bermain gladiator kecil kami. Dan saya hanya membantu sebagian kecil kerjanya saja. Dua alasan yang mendorong saya melakukannya adalah 1). keputusan istri saya (dahulu) berhenti kerja untuk membesarkan anak2nya dan mendidik mereka sendiri. 2). Saya tidak biasa mengatakan cinta pada istri saya.

Untuk alasan yang pertama, sampai saat ini saya masih sangat terharu atas keputusan istri saya yang rela berhenti bekerja, tidak melihat “dunia luar” dan hanya berkutat dengan anak, piring dan sapu. Kebosanan jelas tergambar dari raut wajahnya, tetapi dia tidak pernah mengeluh karena tahu benar apa yang melandasi keputusannya berhenti bekerja. Istri saya dulu kerja didaerah Tebet, sering main ke daerah kuningan, cassablanca, blok M, dan tahulah kemana lagi – sementara sekarang jalan2 hanya pada hari minggu dan sejauh ini hanya ke kramatjati. Karena pengorbanannya yang begitu besar itulah istri saya angkat menjadi manager accounting di keluarga saya, mengontrol semua dana dan menyusun anggaran pendapatan belanja keluarga. Sementara saya menjadi operational manager dan project manager (hanya cari uang—istilah gampangnya).

Untuk alasan yang kedua, saya mengerjakan pekerjaan istri saya sebagai ungkapan rasa cinta saya kepadanya. Wooaaalaah, nggombal opo maneh iki…mungkin seperti itulah yang anda pikirkan, tapi memang seperti itu kenyataannya. Kisah cinta saya memang unik, saya dipertemukan Allah dengan istri saya saat menjenguk teman dekat saya yang sakit typhus di RS. Polri Kramatjati. Teman saya dan istrinya akhirnya “mencomblangi” kami. Setelah 4 kali bertemu, alhamdulillah saya diberi kemudahan dalam hal silaturahim tersebut (kebetulan saya juga mandapatkan garansi dan referensi berkelakuan baik oleh teman dekat saya dan istrinya), sehingga istri sayapun menerima kehadiran saya. Sayapun menelepon bapak saya dan karena kebetulan sedang berada di Jakarta, bapak saya langsung mengajak saya silaturahim ke rumah istri saya (kalau istilah orang jawa –nembung— mengungkapkan keseriusan hubungan dua keluarga). Setelah diterima dengan baik, sebulan kemudian keluarga saya melamar istri saya. Setelah menikah barulah saya mendengar cerita menggelikan tentang lamaran tersebut, saat keluarga saya mengutarakan maksud untuk melamar, Ayah mertua saya bertanya pada istri saya (dulu baru calon lho ya),”apakah kamu mencintainya..?” Istri sayapun bingung menjawab, “saya juga bingung, dia belum pernah bilang mencintai saya tapi kok nglamar saya”.

Ya…saya memang lupa atau bahkan lebih cocok dikatakan pengecut untuk berani mengatakan “saya mencintaimu”. Drama itu terulang lagi saat istri saya mengandung 7 bulan anak saya yang pertama, suatu saat istri saya pun bilang,”seingatku kamu belum pernah bilang cinta padaku lho mas..sampai aku mengandung ini”. He..he..lelakon kethoprak humor opo maneh ki…dan yang lebih aneh lagi, istri saya juga jarang sekali mengatakan hal tersebut. Yang jelas setiap bangun pagi dan sepulang kerja, teh hangat kesukaan saya telah tersaji didampingi sepiring cemilan pisang goreng, tape goreng atau martabak. Mungkin itulah ungkapan cinta yang lebih berarti dari perkataan “saya mencintaimu”.

Saya jadi ingat kata2 yang menyatakan “No need language to say you’re in love” dan saya akhirnya memahami makna lagu barat lama milik Bobby Vinton “I love how you love me”


Responses

  1. great experience

  2. ooww… so deep… :u

  3. hanya sebuah pengalaman..yang terkadang kita abaikan..tetapi kalau kita renungkan menjadi pengalaman yang sangat luar biasa

  4. just like my hubby
    word of “LOVE” never come from his mouth but dia selalu menunjukannya dengan membantu ngebersihin rumah, ngerawat our daughters

    ga masalah ga da kata cinta yang penting bisa dirasakan

  5. cinta, selain dilakukan dengan tulus juga sebaiknya diungkapkan, not hard to say :
    i luv u hon…
    you are my best thing in my life.

  6. wiih suami yang rela membantu istrinya bersih2

    salut salut


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: