Oleh: fayday | Februari 5, 2008

Mainan anak mainan orang tua

Hari ini kebetulan saya libur dan memang setiap akhir bulan diperusahaan saya adalah hari libur –katanya sih untuk memudahkan closing produksi—. Dan seperti biasa saya membantu istri beres2 rumah dan mengurusi Fathan –anak saya yang besar— dari membangunkannya, memandikan dan mengantarnya sekolah. Selagi istri saya menyiapkan bekal dan peralatan sekolah, saya memakaikan sepatu Fathan. Sambil memakai sepatu, anak saya menggenggam mainan kesukaannya, telur2an dinosaurus. Telur dinosaurus adalah mainan yang sedang ngetrend di RT saya, mainan ini sebenarnya replika berbagai macam hewan dari dinosaurus, singa, jerapah bahkan robot. Tapi mainan unik ini didesain sedemikian rupa, berupa ruas2 yang disekrup dan jika sudah disusun membulat akan menutup dan membentuk telur.

Sesaat sebelum berangkat, anak saya bilang,”Pak, boleh enggak Atan –panggilan anak saya— bawa telur2an ke sekolah..?”
Sayapun menjawab,”Gak usah Fathan, nanti malah dipinjem temannya dan hilang atau rusak”.
Tanpa terduga anak saya menjawab,”nanti teman2 Atan boleh pinjam bapak, Atan kan anak baik”. Anak sayapun melanjutkan,”bapak gimana sih, Atan kan anak baik, kalau teman Atan pinjem, dikasih”.
Istri saya yang mendengar percakapan menggelikan itupun tertawa, akupun tersenyum dan bergumam dalam hati, orang tua kok kalah sama anak 3 tahun. Sambil mengantarkan anak saya, saya masih terngiang-ngiang percakapan tadi.

Sebelum kejadian pagi ini, saya sering sekali mendengar ungkapan kekhawatiran orang tua terhadap mainan anaknya – yang baru dibelikannya—. Bahkan saya juga dibesarkan dilingkungan yang sangat sering mengatakan hal semacam itu.
“Jangan dibawa kemana-mana, nanti mainannya hilang” atau “dirumah saja mainnya, nanti kalau mainan dibawa main jadi rusak”. Pernah ada kejadian yang lucu tentang hal semacam ini, yaitu anak saya bermaksud memberikan mainannya –mobil2an hot wheels— pada temannya. Karena mobil2an itu baru, maka saya dan istri saya melarangnya. Dan anak saya pun ngeyel, “kan mobil2an ini punya Atan, Atan mau ngasih teman yang belum punya”
Kamipun terdiam bingung, sayang sekali mobil2an itu jika dikasihkan anak orang lain, tapi jika dilarang berarti kami mematikan sebuah pikiran sosial dan empati yang memang sangat jarang tercipta dijaman sekarang ini. Dan satu hal yang benar dari perkataan anak saya adalah mainan itu sudah menjadi miliknya, jadi dia boleh memberikan ke temannya. Ehmm…rumit juga jadinya? Saya lupa kejadian tepatnya, tapi akhirnya anak saya dapat dibujuk untuk “tidak beramal” memberikan mainannya ke temannya.

Sebagai orang tua, kita menginginkan yang terbaik untuk anak kita, termasuk membelikan mainan. Tapi yang sering menjadi pertanyaan adalah membelikan mainan yang mahal itu untuk anak kita atau untuk gengsi kita (orang tua). Anda mungkin bingung dengan perkataan saya, tapi saya yakin anda sering melakukannya.
Sebagai contoh adalah kejadian dikeluarga kami, suatu saat saya membelikan mobil2an yang bagus dan baru. Baru saja dibuka dari box-nya, anak saya sudah semangat dengan mobil2an barunya dan menjalankannya dilantai dan teras rumah. Saking semangatnya, mobil2an tersebut terjatuh beberapa kali. Kami yang melihatnya meregang nafas dan merem-melek dibuatnya, kamipun langsung melarangnya,”jangan, nanti rusak”. Anak sayapun bereaksi,”inikan mainan Atan”. Kita membelikan mobil2an untuk kesenangan anak kita tentunya, tapi jika anak kita memainkan mobil2an sesuai kehendaknya, kita melarangnya dengan alasan nanti rusak. Sebenarnya mobil2an itu dibeli untuk kita –orang tua— atau untuk anak kita..?

Satu hal yang pasti, sebagai orang tua kita tidak ingin uang yang sudah kita cari susah payah ternyata hilang begitu saja karena anak kita sembarangan memainkan mainannya. Adalah hal yang wajar kita melakukan hal tersebut, tapi mungkin cara kita –atau lebih tepatnya cara kami– yang salah, sehingga anak jadi bingung menanggapinya.


Responses

  1. wehh bagus nih saia suka

  2. Anak pintar,hehe


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: