Oleh: fayday | April 1, 2008

Rezeki bukan hanya uang yang kita dapat tapi juga “utangan yang kita dapat”

Definisi Rezeki

Bulan Maret 2008 ini keluarga saya mendapatkan cobaan tentang sakit. Pada awal Maret saya sakit dan harus rawat inap 5 hari karena sakit demam berdarah dan typhus. Pada minggu ke-3 anak saya yang pertama sakit demam berdarah juga dan harus rawat inap selama 4 hari. Dan 3 hari setelah anak pertama saya keluar dari RS, anak saya yang ke-2 masuk RS karena radang paru dan menginap selama 3 hari. Alhamdulillah, saya dicover asuransi dari perusahaan dan ”hanya keluar uang” sedikit, sekedar untuk selisih kamar. Dan setelah pulang, saya harus merevisi kembali arti rezeki yang selama ini saya pahami.
Dulu saya menganggap rezeki adalah nikmat yang diberikan Allah berupa benda yang dapat kita gunakan atau manfaatkan agar kehidupan kita lebih baik. Rezeki berupa uang, pemberian makanan, barang dan sejenisnya, tetapi semua hal ini sangat tidak sesuai dengan kejadian saya dibulan ini. Uang yang harus saya keluarkan jika tidak di-cover oleh asuransi lebih dari Rp. 10jt, angka yang berkali lipat gaji saya, tetapi dengan adanya asuransi saya tidak kehilangan uang sampai jutaan –itulah rezeki–.

Jadi rezeki menurut saya (sekarang ini) adalah nikmat Allah yang diberikan kepada kita hingga tidak mengurangi nikmat kita (sebelumnya) – ini definisi menurut saya sendiri lho ya..Jadi saya benar2 harus bersyukur banyak hal dalam kasus saya, dan dari sekian banyak rezeki yang berhubungan dengan sakitnya keluarga saya, beberapa titik rezeki yang bisa saya hitung dan contohkan adalah :

  • Banyak yang menengok saya dan membawakan jus kurma dan sari kurma, sehingga saya cepat pulih dan tidak mengeluarkan banyak uang –kurma adalah buah yang sangat baik untuk recovery pasien DB dan akan saya bahas lebih detail kemudian–
  • Banyak tetangga yang datang bawa amplop –he…he..ini gak usah dibahas lebih detail –
  • Anak saya yang pertama mau tinggal dirumah neneknya saat adik, bunda dan ayahnya nginep di RS sehingga ngirit biaya kamar –lho kok bisa..? Hal ini saya alami tahun lalu, saat anak saya ke-2 sakit dan anak saya yang pertama tidak mau tinggal dirumah neneknya, akibatnya saya harus ambil VIP karena sekeluarga ”piknik di RS” dan saya pergi dan pulang kerja juga dari RS.
  • Saya punya tetangga sangat yang baik, sehingga kalau pagi saya jemur pakaian dan saya tinggal kerja, dia berinisiatif angkat jemuran kalau hujan dan menjemurnya kembali saat panas. Impactnya saya tidak usah repot2 nyuci ulang atau menumpuk cucian.
  • Saya tinggal didekat rumah mertua, sehingga semua kebutuhan hidup istri dan anak saya selama di rumah sakit dipenuhi mertua –ngirit bukan..?—
  • Istri saya diberikan kesehatan sehingga walaupun hampir ½ bulan menginap di rumah sakit. Jadi tidak mengeluarkan biaya tambahan untuk dokter.
  • Anak saya nafsu makannya tetap baik sehingga recovery-nya cepat dan rawat inapnya cepet.
  • Istri saya bertemu dengan teman lamanya dan akhirnya ditawari kerja di RS tersebut.

Saya hanya bisa menghitung yang saya rasakan dan tidak ada setetes dibandingkan besarnya karunia Allah dibalik sakitnya keluarga saya bulan ini, yang membuat saya dan keluarga masih bahagia walaupun banyak cobaan yang dihadapi. Dan saya jadi ingat nasehat teman saya –M. Zaki – yang mengatakan bersyukurlah jika kamu dicoba dengan kesusahan karena kamu akan selalu berdo’a dan ingat Allah, dibandingkan jika kamu dicoba dengan kesenangan –karena kamu pasti akan melupakan semua nikmat yang dikaruniakan-Nya –

Perwujudan rasa syukur atas rezeki yang kita dapat
Masalah rezeki mengingatkan saya pada seorang teman dekat saya saat kuliah –Abdullah Tri Mulyawan–, dan beberapa hal yang saya ingat sampai sekarang tentang kata bijaknya adalah :

  • Orang kaya lebih takut miskin dari orang miskin
  • Berbagilah kesenangan dengan orang lain dan beramalah walaupun pada saat yang sempit –katanya petuah dari ibunya –
  • Jika makan enak, ajaklah temanmu –katanya sih petuah dari bapaknya –

Teori-teori ini saya dapatkan tahun 1995 dan jauh sebelum Ustadz Yusuf Mansyur mempopulerkan sedekah. Beberapa pengalaman saya dengan beliau yang menarik adalah

Beramal dengan uang pinjaman
Diakhir bulan kami berdua kehabisan uang kiriman, dan pontang-panting mencari utangan. Akhirnya teman saya tersebut mendapatkan uang pinjaman Rp. 20.000,- (nilai uang itu sebelum krismon lho). Dan tanpa terduga uang pinjaman itu diberikannya kepada saya separuhnya dan ketika itu saya bertanya,”dapat uang darimana..? kiriman sudah datang..?”
Dia pun menjawab santai,”dapat rezeki, ada orang yang ngasih pinjaman uang untuk menyambung hidup”.
Tidak lama kemudian (saya lupa tepatnya) dia mendapatkan beasiswa PPI.
Pelajaran yang saya dapat adalah :

  1. sebelumnya saya tidak pernah berpikir bahwa utangan itu adalah rezeki karena toh nantinya kita harus mengembalikan utang tersebut.
  2. saya pun jadi ingat perkataan bapak saya,”janganlah khawatir tidak punya uang, selama kita masih dipercaya tetangga untuk ngutang”. – dipercaya tetangga itupun rezeki –.
  3. Beramal pada saat sempit benar2 memerlukan ke-ikhlasan dan insya Allah dibalas oleh Allah dengan lebih banyak rezeki.

Mengajak makan2 setiap dapat nilai A
Ini juga kebiasaan aneh teman saya yang lain dan hingga kini jarang sekali saya menemukan kebiasaan ini. Normally orang mendapatkan nilai A mengucapkan Alhamdulillah dan ada juga yang berpikir –sudah pantaslah, kan belajar dengan tekun–, tapi teman saya selalu mengajak makan (walapun cuman dengan 1 atau 2 orang) setip mendapatkan nilai A dan itu adalah perwujudan rasa syukurnya kepada Allah dengan membahagiakan orang lain.

Berbagi Rezeki
Beberapa pekan yang lalu saya berkumpul dengan teman dan salah seorang teman membahas QS Al Baqarah ayat 268

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِالْفَحْشَاء وَاللّهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلاً وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia . Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.

Mungkin teman2 juga sudah sering membicarakan ayat ini, dan teman saya menegaskan bahwa jika kikir (takut beramal) karena takut harta kita berkurang atau menjadi miskin, maka pada saat itulah kita sedang digoda syaithan –dan saya pun sering mengalaminya dan tergoda –.

Sayapun jadi ingat nasehat teman saya kerja (yang kini sudah buka usaha toko buku –Hamid –), dia memberikan nasehat yang sangat saya ingat sampai sekarang (saat itu saya minta nasehat tentang usaha) :

Jika kita punya usaha dan akan menaikkan gaji karyawan kita (diatas UMR atau karena alasan kebutuhan hidup yang meningkat dijaman sulit ini) maka niat yang harus kita lakukan adalah beramal dan berbagi rezeki. Berpikirlah bahwa kenaikan gaji mereka adalah rezeki mereka dari Allah yang kebetulan lewat tangan kita. Jangan berhitung dengan alasan menaikkan gaji karyawan adalah mengurangi keuntungan kita.

Nasehat yang sangat indah dan dia kini sudah keluar dari tempat kerja saya dan membuka usaha sendiri.

Sayapun mengenal seseorang yang ”aneh” dalam pandangan orang awam, beliau seorang marketing manager sebuah perusahaan telekomunikasi ternama di Indonesia. Tetapi beliau ini masih mengontrak rumah dan beliau bersyukur menjadi orang yang ”banyak rezekinya” dibandingkan dengan tetangga2 kontrakannya, karena hal itu menjadikannya menjadi ladang amal : menolong tetangga yang membutuhkan uang, membantu tetangga yang kesusahan bahkan mobil beliau ini dipinjamkan kepada suatu organisasi yang sedang melakukan bakti sosial hingga lebih dari 2 minggu –dan beliau rela naik motor ke tempat kerjanya –. Contoh2 ini sangatlah indah jika kita lihat dan diamalkan oleh banyak orang dan juga saya.

Saya kira sekian dulu tulisan saya mengenai rezeki, semoga mengingatkan saya dan teman2 kepada kebaikan. Mungkin tulisan saya ini dapat megingatkan kembali saya (khususnya) dan teman2 akan arti penting bersyukur terhadap rezeki yang diberikan Allah kepada kita.


Responses

  1. thanks………..

  2. Rezeki adalah suatu utusan yang langsung diutus oleh Allah SWT dimana memang semakin lama kita semakin menyadari maha keluasan arti dan makna yang terkandung didalamnya.

    sebenarnya kita telah berbagi rezeki selama kita masih diberi nafas & kehidupan oleh Allah SWT

  3. rezeki sudah sepantasnyalah kita syukuri
    alhamdulillah, ulasan ini juga jadi rezeki buat saya hari ini… ^^

  4. itulah ‘hati nurani’..
    yg selalu jujur,suci bersih.
    semua org punya koq,tapi…😦

  5. saya seorang ibu rumah tangga dngan 1 orang putra berumur 5th dan srng sya d kejar” hutang dan saya tidak tahu hars kmana cri uang buat byr utan tsbt,,,mau ke bank sya ndk ada jaminan,,,tlong saya pk ato bu,,,saya tdk tau lagi hrs berbuat apa?????

  6. saya suka tulisan anda, terimakasih sudah berbagi

  7. Dan tulisan Anda adalah Rezeki buat Saya yang membaca… terimakasih pak


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: