Oleh: fayday | Oktober 7, 2008

Film Laskar Pelangi

Tanggal 25 september 2008 adalah penayangan perdana film laskar pelangi, film yang diinspirasi oleh novel laris dengan judul yang sama “Laskar Pelangi”. Novel ini mencetak sejarah menjadi novel terlaris di Indonesia dengan penjualan lebih dari 500rb buah. Dan saya pun terinspirasi untuk melihat film tersebut pada tayang perdana “tanggal 25 September 2008”.

Saya orang yang tidak atau kurang begitu suka dengan film apalagi sinetron pun film di bioskop. Lima film bioskop terakhir yang saya tonton pun saya lakukan dalam jeda lebih dari 10 tahun — udik juga ya saya..he..he..–. Film Titanic, Ada Apa Dengan Cinta, Bruce Almighty serta satu lagi saya lupa judulnya dan yang terakhir adalah film Laskar Pelangi. Bisa dihitung dengan jari dan dalam rentang waktu 1997~2008 sangat mencerminkan ke-udikan saya dalam hal nonton film bioskop. Jadi saya bertekad untuk membuat sejarah dengan menonton film pada tayang perdana.

Jauh hari sebelumnya saya sudah sepakat dengan teman2 kerja saya untuk menonton film ini pada tanggal 25 september dan lokasi sudah ditentukan yaitu cinema 21 di Kalibata Mall. Aura perjuangan menonton film telah dimulai…kami kerja diwilayah timur Bekasi (bukan Bekasi Timur lho..) dan diperlukan waktu sekitar 45 menit untuk mencapai mencapai Kalibata Mall dari tempat kami bekerja. Dengan mengandalkan ingatan rumus fisika s=v.t dan hitungan tambah-kurang ala SD maka didapatkan kesepakatan bahwa kita menonton film yang ditayangkan pada pukul 18.45. Detail hitungan fisika SD-nya adalah departure bus jemputan pulang dari pabrik tempat kami berkerja adalah pk. 16.30, kecepatan bus jemputan di Tol rata-rata 60km/jam dan lokasi pabrik kami bekerja yang terletak pada KM 36 Jl. Tol Cikampek. Ditambahkan Jarak yang harus ditempuh dari Cililitan ke Kalibata yang berjarak 2km dengan kecepatan ojek rata2 20km/jam dan ditambahkan toleransi macet 30% maka disimpulkan waktu yang paling cocok adalah jam tayang pk. 18.45 tadi. — saya juga bingung saat mengitung kecepatan angkot tadi.., kenapa toleransi hingga 30%..? system transportasi yang salah/buruk atau memang kita telah dididik jadi bangsa yang toleran (sejak pelajaran SD) sehingga muncul toleransi 30% yang dianggap lumrah itu. Weleh, malah ngelantur kemana-mana..

Rintangan pertama diatasi dengan mudah, perhitungan matang menghasilkan schedule yang tepat, nonton tayangan pk. 18.45. Tetapi rintangan berikutnya telah menghadang…dimana dan kapan akan berbuka puasa dan sholat..? kami bersepakat untuk mengatus schedule : 1. beli tiket, 2. beli cemilan dan minum 3. menuju tempat sholat dan menunggu maghrib 4. Berbuka dan sholat 5. Makan — bila sempat 6. Masuk ke theater-1 tepat pukul 18.45. sangat mudah…pikir kami dan “seolah suratan takdir” berpihak pada kami untuk sukses menonton di tayang perdana ini.

Masih 2 hari lagi tanggal 25 september menghampiri kami dan dua rintangan sudah diselesaikan dengan baik, hingga tersisa rintangan terakhir yang sangat berat harus kami lalui — meminta ijin istri untuk nonton sendiri– he..he..he..untuk urusan satu ini kami sering bingung sendiri apakah kami termasuk kelompok ISTN — bukan Institut Sains & Teknologi Nasional Jakarta..tapi Ikatan Suami Takut Nyonya– ataukah kami
suami yang menghargai keterbukaan hubungan suami istri dan memandang istri sederajat dengan suami..entahlah…yang jelas rintangan terakhir inipun dapat diselesaikan dengan baik oleh kami.
Yup..approval telah diteken dan kami akan nonton bersama tanpa didampingi keluarga…wuah..nikmat tenan.

Tanggal 25 september 2008, singkat cerita kami sudah menjejakkan kaki di lobby Mall yang berserambi rel kereta api Bogor-Jakarta, bersanding dengan pabrik sepatu legendaris yang selalu saya banggakan jika memakainya saat masih duduk di bangku SD dan mall ini bertetangga juga dengan peraduan abadi para pahlawan negeri kita tercinta ini. Kami bertiga bergegas menuju lantai-3 dan langsung “njunjug” loket yang terlihat lengang. “Lengang” — suasana yang kadang menjadi pertanda buruk dan mengingatkan saya pada kata-kata bijak yang -katanya- disampaikan Napoleon “berhati-hatilah pada keadaan selalu yang baik-baik saja”. Hal ini diungkapkan Napoleon setelah kekalahannya pada perang melawan Rusia di musim dingin.

Diloket karcis bioskop tidak ada sepasang kakipun yang berdiri didepan loket antrian yang menjadikan kami bertiga seperti orang asing yang datang ke kota terlarang ditengah gurun yang lengang. “Karcis habis pak”, kata gadis penjaga karcis menyambut kedatangan kami. Kami tertegun dan saya melihat jam pada HP yang menunjukkan pukul 17.30, masih ada waktu 1 jam 45 menit dan karcis telah habis..pengalaman yang sangat buruk. Akhirnya kami bertiga pulang kerumah untuk berbuka bersama keluarga setelah sebelumnya harus melawan kemacetan Jl. Dewi sartika…menyerah..? tidak..saya bertekad secepatnya nonton film ini.
Sabtu, 27 September 2008, pagi2 saya bersiap dengan istri dan anak saya untuk mencoba lagi menonton film yang seang digandrungi itu. Pukul 10.00 kami sudah
sampai di Tamini Square dan langsung menuju cinema 21 yang masih gelap dengan pintu tertutup rapat. setelah melakukan pengintaian sejenak, saya dapat melihat dari
balik pintu kaca papan theater-1  yang bergambar poster laskar pelangi ditempel dibawah tulisan Pk. 12.00  14.00 dst. Masih 2 jam lagi dan pintu cinema belum terbuka sama sekali, suasana sepi didalam dan yang terlihat hanya seorang cleaning service yang maju mundur mendorong pel membersihkan lobby bioskop. “Kita jalan2 dulu atau menunggu disini..?” tanya saya pada istri dan anakku sambil menunjuk bangku2 kosong
berjajar di food court. Sambil memandang sekeliling kami berpikir dalam hening, tidak ada jawaban dari istri dan anakku. tetapi ada sesuatu yang menarik perhatian kami, beberapa bangku food court telah terisi dengan ibu2 berjilbab dan anak-anak, sesuatu
yang tidak saya perhatikan sebelumnya. Karena hari itu pada bulan ramadhan, maka sangat tidak mungkin mereka sengaja nongkrong makan2, kecuali untuk menunggu
sesuatu. akhirnya kami mendapat satu kesimpulan bahwa mereka adalah teman kami nonton bareng pada hari itu, dan kami memutuskan untuk duduk2 saja di food court
menunggu pintu bioskop dibuka.
Sekitar 15 menit selepas dari pukul 11.00 bangku2 food court mulai dipenuhi orang2 yang tidak memesan makanan, mereka hanya duduk mengobrol dan menunggu hal yang sama, pintu loket bioskop dibuka. tidak berapa lama kemudian sekelompok anak muda bergerombol berdiri didepan pintu kaca bioskop sambil berbincang dan mulailah ritual antrian beli karcis bioskop untuk nonton film box office terbentuk. Pukul 10.30 pintu bioskop dibuka dan orang2 menyerbu loket karcis dari dua pintu kaca yang terbuka layaknya segerombolan lebah yang menyerang manusia yang mengusik sarangnya. “kemruyuk” seperti orang selamatan mengitari nasi ingkung yang dibagikan, hingga perlu beberapa saat untuk mengatur antrian sampai rapi layaknya kaum dhuafa akan menerima pembagian beras jatah atau zakat. 15 menit berlalu dan saya mendapatkan tiket yang saya pesan, dan sudah separuh bangku bioskop yang berkapasitas 200 buah terpesan.Sambil menunggu jam tayang, akhirnya kami belanja ke swalayan terkenal dilantai bawah Tamini Square dan tepat pukul 12.00 pada tanggal 25 september 2008, setelah melewati cobaan selama 3 hari akhirnya saya nonton film yang saya idam-idamkan “Laskar Pelangi”.

Ingin Tahu ringkasan ceritanya..? dibawah ini saya cuplikan tulisan film tersebut dari Tempo 22 September 2008.

Melukis Pelangi di Layar Perak

Setelah novel Andrea Hirata meledak, kini sutradara Riri Riza mencoba melukiskan Laskar Pelangi di atas layar perak. Setelah enam kali mondar-mandir ke Belitung untuk mengadakan riset selama setahun dan mencari pemain asli penduduk Belitung, duo Mira Lesmana dan Riri Riza menampilkan kisah 10 anak Belitung dan dua orang guru yang penuh semangat yang inspiratif dan menyentuh. Ikuti liputan Tempo di Belitung dan kesempatan pertama kami menyaksikan film sepanjang 125 menit ini.

Sembilan anggota Laskar Pelangi itu hanya berdiri, tanpa suara, tanpa kata. Ibu Muslimah menahan air mata sekuat tenaga. Mereka semua memandang sosok Lintang yang gosong oleh matahari, sebuah sosok jenius yang ”menyelamatkan” sekolah mereka dalam lomba cerdas cermat melawan sekolah-sekolah besar yang menakutkan itu. Kedua tangan Lintang yang kurus memegang setang sepedanya dan meninggalkan mereka. Tak ampun lagi, Ikal berlari dan berlari mengejar Lintang dengan mata yang basah. Dia tahu, tak ada gunanya mengejar Lintang yang semakin jauh. Tak ada yang bisa menangkis tragedi yang menimpa Lintang.

Ini adalah salah satu cuplikan adegan film Laskar Pelangi karya Riri Riza yang paling merobek hati, yang sama sekali tidak melibatkan dialog apa-apa, kecuali sebuah gambar yang sederhana, namun memberi efek ledakan dalam jiwa.

Bagi mereka yang sudah membaca novel karya Andrea Hirata dengan judul yang sama, adegan yang diutarakan dalam beberapa halaman itu cukup diberi satu gambar yang efektif. Sebuah perpisahan antara Lintang dan kawan-kawannya yang menyesakkan dada.

Film sepanjang 2 jam 5 menit yang memakan ongkos Rp 8 miliar, melibatkan belasan pemain asli Belitung dan belasan aktor dan aktris terkemuka, akan bisa dinikmati di bioskop mulai pekan ini. Setelah sutradara Riri Riza dihinggapi puluhan sariawan karena senewen, dan produser Mira Lesmana digenjot migrain tak berkesudahan, film yang baru saja diproses di Bangkok, Thailand, ini akhirnya aman tiba di Jakarta.

”Terus terang, saya rada senewen,” kata Mira, ”para pembaca fanatik novel Andrea Hirata pasti akan membanding-bandingkan film ini dengan novelnya.” Itu memang sebuah risiko mengangkat sebuah film dari novel yang sudah dibaca ratusan ribu orang. Sebetulnya Mira (maupun Riri) tak perlu senewen jika penonton memang paham bahwa novel dan film adalah dua hal yang berbeda. Yang pertama seni bertutur dengan kata, sedangkan Riri bertutur dengan gambar dan bunyi.

Novel Laskar Pelangi—yang oleh pengarangnya disebut sebagai memoar—bertutur tentang sekelompok anak Belitung yang berjuang untuk mempertahankan sekolahnya yang hampir tutup karena kekurangan murid. Pada babak awal novel ini, Andrea Hirata cenderung pedantik, sibuk mendidik dan memperkenalkan pembaca tentang Belitung, tentang perbedaan kelas antarwarganya. Kebanggaan dan kecintaan sang penulis terhadap Belitung dan kepada tokoh-tokohnya begitu dalam dan luar biasa, hingga kosa kata hiperbolik yang digunakannya menjadi kelemahan sekaligus kelebihannya. Misalnya:

”Superb! Anak pesisir, superb!” puji Bu Mus.

Atau ini:

”Filicium decipiens biasa ditanam botanikus untuk mengundang burung. Daunnya lebat tak kenal musim… lebih dari itu, dalam jarak 50 meter dari pohon ini, di belakang sekolah kami, berdiri kekar menjulang awan sebatang pohon tua ganitri (Elaecarpus sphaericus schum).
(hlm. 64)

Atau ini:

”… Lintang telah mengutak-atik materi-materi untuk kelas yang jauh lebih tinggi di tingkat lanjutan atas bahkan di tingkat awal perguruan tinggi seperti implikasi, biimplikasi, filosofi Pascal, binomial Newton, limit, diferensial, integral, teori-teori peluang dan vektor….”
(hlm. 118)

Andrea memiliki daya imajinasi yang menarik dan sangat pandai menaklukkan kata-kata, namun dia juga cinta pada hiperbolisme. Seandainya ada editor yang berani memangkas sebagian saja dari keasyikan penggunaan segala yang superlatif itu, mungkin akan terasa lebih pas.

Tetapi, dengan memaafkan segala kecenderungan hiperbolik itu, dan mencoba bersabar untuk meneruskan bab-bab berikutnya, ternyata novel ini memiliki sebuah potensi yang jarang dimiliki novel lain: semangat. Novel Laskar Pelangi, dengan kemahiran Andrea menggelitik dan menertawakan diri sendiri, memberikan inspirasi bahwa di balik segala kemelaratan dan kemiskinan itu, selalu ada cahaya—sekecil apa pun—yang bisa menumbuhkan manusia. Di balik hujan deras atau malapetaka sedahsyat apa pun, akan selalu lahir pelangi.

Andrea tak bersedia larut dalam melodrama. Dia berhasil melucu dalam banyak adegan, meski humor itu lahir dari berbagai kepedihan penduduk Belitung yang sehari-hari hidupnya serba kekurangan. Tokoh Ikal, alter ego Andrea Hirata, digambarkan sebagai anak yang memiliki kemampuan observasi; sensitif (bahkan cenderung romantis luar biasa), dan sangat mengagumi kedua kawannya, Lintang si jenius dan Mahar si seniman.

Andrea juga mengisahkan dengan rinci anggota Laskar Pelangi lainnya yang gemar kongko di bawah pohon Filicium itu: Trapani yang tampan, harum, dan terlalu tergantung ibunya; Kucai yang ”memiliki kepribadian populis, oportunis, bermulut besar, banyak teori, dan sok tahu”; Sahara yang luar biasa jujur, paling taat agama, dan kalau marah ”alisnya bertemu”; Flo yang ingin menjadi lelaki dan tertarik pada kebatinan; Harun, anak Down syndrome yang manis; A Kiong yang berwajah ”horor” tetapi berhati baik luar biasa; Borek alias Samson yang obsesif untuk membesarkan otot tubuhnya.

Tetapi, di layar perak, sutradara Riri Riza harus memilih. Dia—bersama produser Mira Lesmana dan penulis skenario Salman Aristo—memfokuskan cerita pada tiga nama: Ikal (Zulfany), Lintang (Ferdian), dan Mahar (Verrys Yamarno). ”Tak mungkin kami menceritakan semua karakter dengan rinci seperti yang tertuang dalam novel,” kata Riri. Dia bercerita bahwa setelah membaca novel itu, dia sengaja membuka pikiran seluas-luasnya.

Mondar-mandir enam kali ke Belitung bersama timnya, Riri dan Mira bahkan kemudian menemukan beberapa sosok yang kemudian memberikan inspirasi untuk menambahkan tiga tokoh baru untuk mengentalkan drama dalam film. Tokoh tambahan itu adalah Pak Bakri (Rifnu T. Wikana), guru SD Muhammadiyah yang tergoda pindah ke SD lain di Bangka; Pak Zulkarnaen (Slamet Rahardjo), pejabat PN Timah yang sangat bersimpati pada sekolah SD Muhammadiyah karena dia sendiri lulusan Muhammadiyah Yogyakarta; dan Pak Mahmud (Tora Sudiro), guru SD PN yang menaruh hati pada Ibu Muslimah.

”Kami mendapatkan ide Pak Zul yang sering mengirim beras itu ketika kami bertemu Ibu Muslimah asli,” kata Riri. ”Dari situlah kami merasa perlu menambahkan sosok Pak Zulkarnaen untuk menggambarkan bahwa ada juga kelompok kaya yang membela sekolah yang sudah mau roboh itu,” kata Riri.

”Sebagai film maker, Riri tak hanya telling the story, dia juga showing the story,” kata Slamet Rahardjo. ”Nah, untuk itu Riri membutuhkan Zulkarnaen untuk memberikan raga suatu imaji dalam sastra, yang terbaca tapi tidak tergambarkan. Nah, saya tokoh yang dihadirkan untuk menggambarkan itu.”

Tokoh Pak Zulkarnaen, yang diperankan oleh Slamet Rahardjo dengan baik, digambarkan mengendarai mobil tua dan rajin mengirim beras. Adalah Pak Zul yang meniupkan semangat kepada Ibu Muslimah, ketika akhirnya Pak Harfan, sang kepala sekolah yang budiman itu, wafat dan tokoh ini juga yang dengan semangat membela murid SD Muhammadiyah saat lomba cerdas cermat. Namun tak ada adegan selezat adegan dialog Zulkarnaen dengan Pak Harfan. Bukan hanya karena itu pertemuan dua aktor senior seperti Slamet Rahardjo dan Ikranagara, tapi adegan itu hampir seperti dua teman lama yang asyik ngobrol tanpa koreografi apa-apa, berbincang tentang pentingnya mempertahankan ”sekula” yang mengajarkan jiwa yang teguh. Mengalir, menyentuh. Tak ada duanya.

Tokoh Pak Mahmud yang ditampilkan oleh Tora Sudiro—yang menghapus seluruh tato di tangannya dengan ”dempul” make-up, agar terlihat sebagai guru daerah yang jatuh hati pada Bu Muslimah, adalah sosok tambahan yang tampaknya ingin memperlihatkan romantisisme di kalangan orang dewasa (yang memang absen dalam novel). ”Ini peran agak serius walaupun bukan antagonis,” kata Tora kepada Tempo. ”Mahmud adalah tipe orang yang terlalu lurus menghadapi hidup, dia naif.…”

Sedangkan tokoh Pak Bakri juga muncul sebagai sosok manusiawi yang berdiri di tepi keputusasaan akan idealisme SD Muhammadiyah yang serba kekurangan.

Dengan kata lain, Riri Riza seolah mengambil novel itu sebagai sebuah inspirasi; kemudian setelah bergumul dengan Belitung dan berdiskusi dengan para tokohnya, dia mengolah kembali memoar Andrea Hirata itu menjadi kisah dengan napas sosial yang lebih kental.

Harus diakui, jika kita membaca novel ini, keistimewaan Andrea menggunakan metafora ciptaannya yang jenaka. Tengok ini: ”… sekolah kami adalah salah satu dari ratusan atau ribuan sekolah miskin di seantero negeri ini yang jika disenggol sedikit saja oleh kambing yang senewen ingin kimpoi, bisa rubuh berantakan” (hlm. 18).

Dan keistimewaan Andrea ini memang tertuang di beberapa dialog dalam film. Tetapi Riri adalah Riri. Mata sinematiknya tertarik pada persoalan perbedaan sosial dan pengaruhnya pada kehidupan tokoh-tokohnya. Kejenakaan novel Andrea mengalami transformasi menjadi sebuah prosa liris dengan persoalan sosial yang sangat kental (baca: Tafsir Liris dari Belitung). Sementara Andrea tersenyum dan tertawa pada keserakahan manusia; Riri melawan dan menentang ketidakadilan melalui gambar. Sementara Andrea bertutur tentang kemiskinan dengan jenaka (”Flo tampak kaku duduk di kelas kami dan seluruh ruangan itu sama sekali tidak merepresentasikan setiap jenis sandang yang dikenakannya. Kelas rombeng ini juga tak cocok dengan kulit putih dan raut mukanya yang penuh sinar kekayaan…” hlm. 357), Riri menggambarkan sebuah adegan baru.

Syahdan, sebuah lemari kaca bekas yang dikirim ke sekolah itu untuk menampung sebiji piala. Semua murid dan Bu Mus menatap sang piala di lemari kaca itu tanpa suara; lalu pintu kaca yang reot terbuka sendiri, karena sudah kendur. Bu Mus menutup. Terbuka lagi, lalu ditutup. Kemudian terbuka lagi menyenggol meja Bu Mus, dan akhirnya Lintang maju menyisipkan ganjalan kertas agar pintu bandel itu bisa kukuh diam. Gambaran adegan ini adalah tafsir Riri tentang kemiskinan dan humor di dalam hidup serba kekurangan itu. Gambaran yang jenaka sekaligus mengiris.

Akan halnya Ibu Muslimah, tokoh sentral yang menjadi inspirasi Andrea menulis novel ini, dalam film akhirnya berubah menjadi pemeran utama. Meski film ini diambil dari sudut pandang Ikal (Lukman Sardi sebagai Ikal dewasa bertutur sejak awal film dengan suara yang penuh wibawa), Ibu Muslimah berubah menjadi fokus dan roh dari seluruh film ini. Keputusan Riri untuk menambah porsi tokoh-tokoh dewasa, persoalan sekolah yang dilanda ancaman akan ditutup; persoalan guru yang tergoda pindah ke sekolah lain, hingga romansa Mahmud-Muslimah yang tak terwujud adalah sebuah risiko yang diambil untuk memberikan sebuah gambaran yang lebih gamblang tentang Belitung tahun 1970-an. Cut Mini bersama trio Ikal, Mahar, dan Lintang menampilkan pesta peran yang kuat. Bercahaya.

Namun tak ada adegan yang paling dinanti selain peristiwa kuku-kuku cantik yang membuat Ikal yang bandel itu dimabuk asmara. Ikal yang jatuh cinta pada A Ling, si gadis kecil anak pemilik warung tempat mereka membeli kapur tulis. Andrea menggambarkan pandangan pertamanya dengan A Ling dengan paragraf yang tak terlupakan: ”… saat itu aku merasa jarum detik seluruh jam yang ada di dunia ini berhenti berdetak. Semua gerakan alam tersentak diam dipotret Tuhan dengan kamera raksasa dari langit, blitz-nya membutakan, flash!!!” (hlm. 209). Riri menampilkan pandangan pertama itu dengan sebuah adegan slow motion yang unik: dua wajah remaja kecil bertemu, dan jatuhlah bunga-bunga (bayangan tentu saja) di sekeliling Ikal yang tengah dilanda asmara….


************

Novel Sang Pemimpi dan Edensor (sekuel dari Laskar Pelangi) sesungguhnya dua karya yang jauh lebih rapi dan tertata—dari segi bahasa dan penyuntingan—dibanding pendahulunya. Jika novel Sang Pemimpi diangkat ke layar lebar, problem struktur akan lebih tergilas dibanding novel Laskar Pelangi, yang ditulis seperti sebuah memoar yang sporadis.

Novel Sang Pemimpi yang lebih memfokuskan tokoh Ikal di masa remaja dan hubungannya dengan sepupunya, Arai dan Jimbron, yang obsesif dengan kuda. Hubungan Ikal dengan ayahnya jauh digali lebih dalam dan menyentuh. Adegan sang ayah yang dengan santun selalu mengambil rapor anaknya dengan tertib (meski angka rapor anaknya anjlok memalukan) adalah sebuah adegan sinematik yang sukar dicari tandingannya.

Sedangkan novel Edensor—yang terbaik dari ketiga novel karya Andrea Hirata dan menjadi nomine Khatulistiwa Literary Award 2007—adalah petualangan Ikal selama menempuh pendidikan di Prancis. ”Tentu saja kami tertarik mengangkat novel kedua ini menjadi film,” kata Riri Riza dengan penuh semangat. Riri menambahkan, tentu segalanya tergantung sambutan penonton terhadap film Laskar Pelangi. ”Kita belum bisa seperti Peter Jackson, yang langsung membuat trilogi The Lord of the Rings, tanpa mengetahui hasil pasar…,” katanya mencoba bijaksana. ”Mungkin, suatu hari perfilman kita memungkinkan itu,” kata Riri lagi dengan penuh semangat. Semangat yang dia tularkan melalui film Laskar Pelangi.


Responses

  1. keren….

  2. waw……..
    ini Review film laskar pelangi yg paling gw suka.

  3. terlalu bertele-tele


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: