Oleh: fayday | Oktober 10, 2008

Belajar dari Film Laskar Pelangi

1. “Yang harus kalian ingat, anak-anakku: Jangan cepat menyerah. Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya”,

begitu kira-kira kata-kata Pak Harfan yang sangat saya ingat pada film laskar pelangi. Kalimat sederhana yang sarat makna dan menyadarkan saya bahwa kebanyakan waktu hidup saya habiskan untuk berusaha keras agar “menerima sebanyak -banyaknya”. Dari contoh kecil saja, saya sering menuntut anak saya mematuhi semua yang saya katakan, sementara memberi kasih sayang kepadanya kurang. Saya sering menuntut uang belanja istri harus selalu dihemat, sementara ditempat kerja “jajan makanan” seenaknya saja–enggak ngajak-ngajak makan lagi. Sering saya berdoa diberi keluasan rezeki tetapi untuk memberi infaq dan sodaqoh sangat sulit dan keberatan –mulai sekarang harus berubah nih..–

Pada kenyataannya dalam lingkungan kehidupan kita sekarang ini, banyak sekali yang bertentangan dengan nasihat Pak Harfan atau Pak Cik tadi, Kita berusaha menerima sebanyak-banyak bukan memberi sebanyak-banyak. Hal ini mengingatkan saya akan kata2 teman saya yang kebetulan dia lulusan STM. Dia berkata,”Pak, sampeyan kan lulusan S1 Universitas terkenal, mengapa selalu berusaha mencari kerja yang enak & bergaji tinggi, mengapa orang-orang pintar tidak berpikir membuka usaha dan mempekerjakan dan memberi nafkah pada orang2 lainnya..?” Saat itu saya tertegun dan sampai saat ini saya belum bisa menjawab atau bahkan mewujudkan pertanyaan itu. Semakin pintar orang dibangku kuliah, semakin berpikiran untuk menjadi “buruh kaya” di perusahaan orang lain, jangankan yang pintar…yang bodoh dan lulusnya 6 tahun-lebih kayak sayapun “cemlolo dan nggleleng” mencari kerja yang enak dan bergaji tinggi..ya..kalau enggak kesampaian ya jadi pegawai negeri-lah. Alih-alih memikirkan usaha untuk membantu dan memberi sebanyak-banyaknya kepada orang lain, ngurusin lowongan kerja untuk diri sendiri saja mumet gak karuan.

2. ”Mimpi aku bukan jadi istri saudagar. Mimpi aku jadi guru.”
Kata-kata Bu guru Muslimah yang sangat mengharukan.
Bu Mus bercita-cita mengabdikan dirinya tanpa memikirkan kaya atau miskin yang harus diterima sebagai impact dari usaha mewujudkan cita-citanya tersebut. Tapi dijaman sekarang ini saya yakin masih banyak wanita mulia yang seperti Bu Mus tersebut.

3. ”Kecerdasan diukur bukan dengan angka, tapi dengan hati”.
Dilain frame Pak Cik juga berkata,“Mendidik dengan Iman dan Takwa”.
Kata-kata ini diucapkan Pak Harfan dan dalam film tersebut ditunjukkan bagaimana BU Mus dan Pak Cik mendidik laskar pelangi dengan dengan Hati dan Cinta Kasih, bukan dengan angka seperti SD PN Timah.
Pendidikan ini menghasilkan anak2 yang cerdas yang bermental baja dan berhati mulia. Lintang anak yang cerdas dan bertanggung jawab yang tidak menyerah walaupun takdir mengharuskan dia putus sekolah dan dia bekerja untuk menghidupi keluarganya walaupun masih kecil. Pada akhir film Lintang mempunyai anak yang diharapkan melanjutkan cita-citanya.

Ikal atau Andrea yang berhasil mencapai mimpinya kuliah di Sorbonne University di Perancis dan bahkan dia menulis novel yang dia dedikasikan untuk gurunya dan juga ayahnya (Sang Pemimpi). Jelas bahwa tulisan yang dia buat bukan karena dia cerdas semata, tapi juga mempunyai hati nurani yang mulia.

Bayangkanlah dunia yang dipenuhi manusia cerdas tetapi tanpa hati nurani yang bersih. Mungkin hal inilah yang menjadi jawaban dari pertanyaan saya dulu, kenapa ilmuwan jaman dulu selalu seorang yang bijaksana dan pintar filsafat,Karena –cerdas haruslah diiringi dengan mental dan hati nurani yang baik pula– mencerdaskan anak dengan hati.


Responses

  1. Assalalamu ‘alaykum…
    Walaupa un nontonnya telat, tapi q seneng bgt. film ini, film INA terbaik yg pernah q tonton. Semoga qt dpt banyak belajar dr film ini.Moga qt mjd orang2 yg menghargai orakin dr sisi lain, bersukur dgn apa yg tlah qt miliki,bagaimana mendidik anak (modal nanti kalo dah jadi ortu githu)… dah ya mo plg nih.
    wasalam

  2. Saya sangat setuju jika cerdas itu yang pantang menyerah meraih sesuatu sebelum keinginan tersebut tercapai.

  3. Saya setuju n sangat bangga pada guru yang sayang n cinta pendidikan apa lagi pendidikan islam.
    Film laskar pelangi penggugah hati yang mati akan arti ketulusan n keiklasan. Kehidupan saya tidak jauh dari kisah itu yang mengajar tanpa ada materi tetapi cinta kasih pada murid. moga kita dibukakan hati untuk selalu berbagi. Amiin

  4. Memang film laskar pelangi sebuah karya yg sangat bagus,kaya akan pesan dan nilai moral,juga menjunjung tinggi pendidikan,pokoknya laskar pelangi is the best n semoga menjadi inspirasi bgi anak2 dan kita semua.

  5. Saya justru tak pernah nonton filmnya. Tapi saya baca urut tetralogi nya.Dahsyat !
    Kpn lagi ada karya2 seperti itu.Semoga penulis2 di tanah air semakin tergugah menuangkan sesuatu yang indah dan bermutu.

  6. Sebenarnya pesan2 positif bisa kita ambil dari hal apapun…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: