Oleh: fayday | Oktober 30, 2008

Cobaan yang menjelma dalam keberhasilan & kesenangan

Diceritakan ada seseorang yang terdampar disebuah pulau yang kecil yang tak berpenghuni. Puau kecil itu hanya ditumbuhi pohon2 kecil, semak2 dan pohon kelapa. Tidak ada yang dapat dimakan untuk memenuhi hasrat lapar kecuali buah kelapa itu. Ditbawah terik matahari dan tubuh yang gontai hampir tanpa tenaga -karena berhari-hari terombang-ambing ombak sebelum dihempaskan dipantai- dia memanjat batang pohon kelapa yang licin. Pohon kelapa yang mulus tanpa pahatan untuk memanjat semakin menguras tenaga orang itu, walau demikian tidak mengendurkan semangatnya untuk mencapai puncak pohon dan memetik kelapa untuk menawar rasa laparnya. Ditengah perjalanan menuju puncak, seiring menurunnya tenaga, berhembus angin laut yang kencang menghempas pohon tersebut dan membuat batangnya limbung layaknya orang mabuk sedang berjalan.Sedemikian kencangnya tiupan angin hingga menggugurkan bunga-bunga kelapa kering dan buah kelapa menimpa badan dan kepala orang itu.

Semua tantangan itu tidak menyurutkan semangat orang tersebut untuk memanjat dan memanjat terus hingga berhasil memetik buah kelapa dipuncak pohon yang dipanjatnya. “Semua tantangan ini harus dilalui,” gumamnya,”lebih baik mati kehabisan tenaga karena usaha daripada mati kelaparan tidak berbuat apa-apa”. Hingga akhirnya dia mencapai puncak pohon itu dan mendapatkan biah kelapa yang dia inginkan sebagai penawar lapar. Sambil menikmati buah kelapa muda yang sedikit demi sedikit mengisi ruang-ruang kosong dalam perutnya, tidak lupa dia juga meminum segarnya air kelapa sembari menikmati pemandangan garis panti di pulau itu yang sangat indah.

Lembayung senja membayang diatas horison pantai seiring berhentinya amukan angin laut yang berganti dengan usapan lembut sang angin menjelajahi pulau kecil tersebut. Tidak terasa dia hampir menghabiskan harinya hanya untuk mendapatkan buah kelapa yang kini sedang dinikmatinya. Perut sudah penuh terisi buah kelapa, demikian juga dahaga sudah ditawarkan dengan air kelapa yang segar dan usapan lembut angin laut di sore itu seolah memberinya ucapan selamat atas keberhasilannya menggapai cita-cita –mempertahankan hidup, memperoleh makanan, mengembalikan tenaga dengan memakan buah kelapa-. Sejenak dia menyandarkan tubuhnya diantara bunga2 kering kelapa dan pokok-pokok pelepah kelapa yang bertautan, beristirahat sejenak menikmati keindahan pantai yang memancarkan sinar keemasan disenja hari sebelum akhirnya dia ingin meluncur menuruni pohon itu dan kembali menjejakkan kakinya dipantai. Perut yang kenyang dan lembutnya belaian angin pantai membuat mata sulit terbuka dan akhirnya dia terkantuk-kantuk diatas pohon kelapa yang bergoyang-goyang lembut bagai ayunan bayi.

Tak seberapa lama terlihat sesuatu meluncur dari puncak pohon kelapa itu menuju pasir pantai yang putih. Bukan seekor tupai, bukan pula buah kelapa, pun bukan reruntuhan bunga2 kering kelapa yang tertiup angin, tetapi tubuh sesorang yang melayang ke tanah seperti asteroid jatuh kebumi, berdebum dan membentuk cekungan diatas pasir pantai.

Orang itu terbunuh bukan pada saat dia berjuang melawan rintangan tetapi saat dia terlena menikmati keberhasilannya.

Pada saat kita dibuat sedih dan menderita oleh suatu cobaan, kita pasti akan berjuang keras bertahan dan mengatasinya sekuat tenaga. Semakin keras cobaan, semakin tabah dan semakin keras kita berusaha mengatasinya –sebenarnya hal ini sama dengan Hukum III Newton, Jika sebuah gaya bekerja pada sebuah benda (aksi) maka benda itu akan mengerjakan gaya yang sama besar namun berlawanan arah (reaksi) -. Tetapi justru kita tidak menyadari jika cobaan itu berupa suatu kesuksesan, kekayaan dan kekuasaan. Kita terlena olehnya, merasa memenangkan pertempuran padahal itulah awal dari kehancuran.

Pada saat sakit, miskin dan hutang menghampiri kita, maka kita akan berdoa dan ingat pada Allah. Kita juga berusaha keras agar dapat mengatasi cobaan itu. Tetapi pada saat kesuksesan dan kekayaan memangku kita maka akan terlupakan segalanya. Pada saat itulah kita tidak menyadari bahwa kemenangan kita dalam menghadapi cobaan itu juga merupakan cobaan.


Responses

  1. Dan banyak manusia seperti itu. Lupa akan tujuan awal perjuangan cita2 hidupnya.Akhirnya, jatuh karena menganggap tak ada lagi yang harus diperjuangkan dalam mempertahankan cita2. Bila satu negara penuh dengan orang2 seperti ini, apa jadinya …

  2. ok banget but intropeksi diri


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: