Oleh: fayday | Oktober 5, 2011

Bermain di Sekolah Alam..?

Setelah lama tidak update blog karena sesuatu hal..maka saya putuskan untuk mulai menulis lagi tentang hikmah2 yang saya dapatkan dalam hidup walau kecil..dan share ke teman-teman yang kebetulan mampir ke blog ini.

Males dengan trend sekarang yang menyebabkan orang lebih sering update status FB dan twitter bahkan saking pentingnya sesegera mungkin update status FB/twitter bisa mengalahkan kesegeraan melaksanakan sholat jamaah setelah azan terdengar.

Kemarin saya berbincang dengan teman SMA yang mengeluhkan anaknya yang males sekolah (sekolah TK tepatnya). Anaknya hanya masuk sekolah TK 4 hari dan setelah itu mogok sekolah karena bosan dan lebih enak main dirumah katanya.

Lebih lanjut teman saya bercerita bahwa anaknya banyak “restricted-pembatasan” disekolahnya, seperti bicara harus pelan, tidak mengganggu temannya, tidak boleh lari-lari, dll. Jadi masuk akal jika akhirnya anak teman saya mogok sekolah karena dia tidak bisa “melakukan permainan yang dia sukai”

Bagaimana mengatasi hal seperti ini..? Jika ditanya seperti itu saya susah menjawabnya, tetapi saya akan menceritakan pengalaman kami tentang anak kedua kami yang susah sekolah (kebetulan hal ini tidak terjadi pada anak pertama kami)

Saya dan istri juga pernah mengalami hal yang sama terhadap anak kedua kami. Dia anak yang susah bergaul dengan orang atau anak yang baru dikenalnya. Saking susahnya bahkan kalau ditanyapun diam dan selalu memegang tangan/pakaian bundanya. Mengikuti kemanapun bundanya pergi dan merengek cepat minta pulang karena lebih betah bermain sendiri di rumah. Anak kedua kami seperti introvert, dia bisa bermain lama dengan dirinya sendiri, dengan asyik memainkan mobil2an atau boneka kecil atau bahkan kunci motor yang dijadikannya tokoh ceritanya. Singkat cerita dia berperan jadi dalang bagi kunci, pensil atau sembarang barang yang dipegangnya.

Saat anak kedua kami masuk playgroup adalah saat paling menguras pikiran dan tenaga bagi istri saya, bagaimana membujuk dia agar mau berangkat sekolah dan bagaimana membuat dia senang bersekolah. Sempat mogok sekolah seminggu lebih dan kami tidak mendapatkan solusi yang baik untuk hal ini.

1. Dikasih tahu..? Hal mustahil mengingat anak kecil gak tahu pentingnya sekolah.

2. Dibujuk sekolah..? bagaimana membujuk anak untuk melakukan sesuatu yang dia gak sukai (kan damar lebih suka main dirumah…)

Akhirnya setelah berkonsultasi dengan gurunya, hari yang dinantikan untuk melancarkan misi besar tiba…Hari itu guru dan teman2 anak saya berombongan menjemput anak saya di rumah. “Mereka membujuk anak saya dengan aksi nyata” bukan hanya dengan ceramah kata-kata semata.

Setahun sudah berlalu dari kejadian tersebut, sekarang anak kedua kami sudah TK A (nol kecil) dan yang menggembirakan anak saya senang memulai hari untuk berangkat sekolah walaupun dia harus bangun jam 5.00 dan mandi jam 5.30 pagi.

Akhirnya hari-hari anak saya diisi dengan kegiatan bermain di TK Lebah Kecil.

Yup..bermain…., bukan belajar

Jika saya tanya anak saya “tadi ngapain disekolah..?”

Dia menjawab, “disekolah bermain kok, enggak belajar”

“Bermain apa saja?”

“Mewarnai, menulis, menyanyi”

Inilah foto-2 TK Lebah Kecil (setidaknya mirip sekolah alam)

Saya jadi ingat kata-kata Lionel Messi saat ditanya tentang permainan bolanya, dia hanya menjawab saya hanya memainkan permainan yang saya tahu dengan gembira.

Coba kita berandai-andai secara nakal :

1. Jika menerapkan filosofi “bermain disekolah” seperti TK, maka :

+ Pelajaran sekolah harus spesifik dan murid memilih sesuai minatnya

+ Lulusannya menjadi ilmuwan yg ahli dibidangnya karena spesifik

+ Murid sekolah dengan gembira karena akan belajar yang dia sukai.

+ Guru harus menguasai bidangnya untuk mengajar

– Banyak anak gak sekolah karena gak tahu minat pelajarannya apa

– Beberapa bidang studi akan hilang seiring tidak adanya minat anak

– Bidang kebudayaan akan terkikis dengan bidang teknologi

2. Jika metode sekolah seperti sekarang ini, maka :

+ Murid mengetahui banyak hal walaupun tidak mendalam

– Murid jadi gak pinter karena fokus muridnya sudah terpecah untuk mempelajari pelajaran yang jumlahnya melebihi jari tangannya

– Jarang ada ahli di Indonesia karena semua tahu secara general

– Profesi politikus banyak diminati karena hanya bermodal pengetahuan yang dangkal, umum dan berani omong, bisa terkenal, kaya dan sukses.

– Murid akan faham pelajaran SD setelah dia SMP, dia akan faham pelajaran SMP setelah sekolah SMU, dst..singkatnya TelMi (pengalaman saya sih..hehehe)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: